Maria Elisa Hospita
02 Mei 2018•Update: 03 Mei 2018
Barry Ellsworth
TRENTON, Kanada
Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa Kanada ingin mengubah kesepakatan perbatasan untuk pengelolaan pencari suaka, setelah lebih dari 26.000 jiwa menyeberang ke Kanada dalam 15 bulan terakhir.
Pejabat pemerintah Kanada membantah pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada negosiasi resmi yang sedang berlangsung.
Sementara itu, pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) dalam surat elektronik mengakui bahwa mereka sedang meninjau permohonan Kanada untuk mengubah kesepakatan perbatasan kedua negara.
"DHS saat ini sedang meninjau proposal yang dibuat oleh Kanada untuk mengubah Perjanjian Negara Ketiga yang Aman (STCA), namun kami belum memutuskan apapun," jelas juru bicara DHS dalam surel.
STCA antara Kanada dan AS menyatakan bahwa pengungsi harus meminta perlindungan dari negara pertama di mana mereka berlabuh, namun hal itu hanya berlaku di sekitar jalur penyeberangan perbatasan darat tradisional, di bandara atau dengan kereta api.
Para pengungsi, yang didorong oleh kebijakan anti-imigrasi Presiden AS Donald Trump, mencoba menyeberang ke daerah terpencil di antara dua perbatasan yang tidak dijaga ketat. Di sana mereka ditangkap kemudian ditahan sambil menunggu klaim pengungsi mereka untuk diproses.
Partai Konservatif telah menyarankan agar STCA diterapkan di sepanjang perbatasan. Usulan itu ditolak oleh administrasi Perdana Menteri Justin Trudeau karena hal itu akan memicu para pengungsi menyeberang ke titik-titik penyeberangan yang jauh lebih berbahaya saat musim dingin tiba.
Menteri Keamanan Publik Ralph Goodale mengatakan bahwa dia bersedia berunding dengan pejabat AS mengenai perubahan STCA, tetapi dia membantah pernyataan DHS bahwa ada proposal yang telah diajukan.
"Memang ada pembicaraan mengenai bagaimana kami menjadikan perbatasan kuat, efektif, dan aman dari perspektif kedua negara," ungkap Goodale kepada wartawan.