Astudestra Ajengrastrı
06 Oktober 2018•Update: 07 Oktober 2018
H. M. Abo Rezeg
RIYADH
Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman berkata negaranya tidak akan membayar Washington untuk pasukan keamanan mereka sendiri, berkata negaranya yang kaya minyak sudah berdiri bahkan sebelum AS.
"Arab Saudi bahkan sudah ada sebelum Amerika Serikat. Kami sudah berdiri sejak 1744, saya yakin itu 30 tahun sebelum Amerika Serikat lahir," kata bin Salman kepada Bloomberg dalam wawancara eksklusif pada Jumat petang.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump berkata Raja Saudi tidak akan bertahan selama dua pekan tanpa dukungan militer AS.
Namun bin Salman menanggapi pernyataan Trump dengan kalem, mengatakan bahwa "Anda harus menerima teman yang akan mengatakan hal-hal baik dan hal-hal buruk".
"Jadi Anda tidak mungkin punya teman-teman yang 100 persen berkata hal baik tentang Anda, bahkan di keluarga sendiri. Pasti akan ada kesalahpahaman. Jadi kami menaruhnya dalam kategori itu," ujar dia.
Putra Mahkota berkata Riyadh telah membayar semua persenjataan yang dibeli dari AS.
"Kami tidak akan membayar apapun untuk keamanan. Kami percaya semua persenjataan yang kami miliki dari Amerika Serikat sudah dibayar, mereka tidak gratis," ujar dia.
"Sejak awal hubungan Arab Saudi dan Amerika Serikat dimulai, kami membeli semuanya dengan uang."
Dia menekankan bahwa hubungan Saudi-AS bagus, berkata "Jika Anda melihat gambaran besarnya, Anda melihat 99 persen hal-hal bagus dan satu masalah buruk."
Beralih ke konflik sepanjang empat tahun di Yaman, bin Salman berharap bisa meraih solusi krisis di negara tetangga Arab itu.
"Kami harap krisis bisa berakhir secepatnya. Kami tidak membutuhkan itu di perbatasan kami," ujar dia.
"Kami tidak membutuhkan Hizbullah baru di Semenanjung Arab. Ini adalah garis merah, bukan hanya untuk Arab Saudi tapi juga untuk seluruh dunia. Tidak ada yang mau ada Hizbullah di selat yang dilewati 15 persen perdagangan dunia. Kami akan terus menekan mereka.
"Kami harap mereka bersiap secepatnya untuk bernegosiasi dan membuat kesepakatan," tambah bin Salman.
Pada 2015, Arab Saudi dan beberapa sekutu Arab-nya meluncurkan serangan udara besar-besaran kepada pemberontak Syiah Houthi, yang menduduki sebagian besar Yaman, termasuk Ibu Kota Sanaa, setahun sebelumnya.
Kekerasan yang terus berlanjut ini merusak infrastruktur dasar Yaman, membuat PBB menyatakan situasi di sana sebagai "salah satu bencana kemanusiaan terburuk di era modern".