Chandni
14 Mei 2018•Update: 14 Mei 2018
Elena Teslova
MOSKOW
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan mitranya dari Iran Mohammad Javad Zarif pada Senin membahas masa depan kesepakatan nuklir Iran setelah Amerika Serikat menarik diri.
Kunjungan Zarif ke ibu kota Rusia, Moskow, adalah bagian dari tur internasionalnya dalam upaya menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran.
Pada 8 Mei, Presiden AS Donald Trump mengumumkan keputusannya untuk menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran, mengatakan perjanjian itu "sudah bermasalah sejak awal".
Pada Minggu, Menteri Luar Negeri Iran mengunjungi Tiongkok, dan setelah bertemu Lavrov, dia menuju ke Brussel untuk bertemu Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Federica Mogherini, dan menteri luar negeri Jerman, Prancis dan Inggris.
"Hari ini kami berharap meneliti bagaimana bisa menggunakan mekanisme yang kita miliki dengan partisipasi Troika Eropa, Tiongkok, Rusia, Iran dan Uni Eropa untuk mencegah kegagalan dokumen penting ini, untuk mencegah destabilisasi situasi di wilayah itu, dan untuk mencegah ancaman baru terhadap rezim non-proliferasi."
"Kami menghargai kesempatan bisa bertemu di Moskow dan bertukar pandangan mengenai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA)," kata Lavrov saat membuka pertemuan dengan Zarif.
Menurut Zarif, tujuan kunjungannya adalah untuk mendapatkan jaminan peserta lain kesepakatan nuklir bahwa kepentingan Iran akan dilindungi.
"Tujuan utama semua perundingan ini adalah untuk mendapatkan jaminan kepentingan rakyat Iran, yang dijamin oleh Rencana Aksi Komprehensif Gabungan, akan dilindungi", kata Zarif.
Zarif juga mengatakan keputusan AS untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem adalah "berbahaya".
"Kemarin, kami menyaksikan perilaku yang sangat berbahaya dari mereka terhadap Yerusalem", katanya ketika mengomentari relokasi kedutaan AS.
Desember lalu, Trump menuai kecaman dan protes dari seluruh dunia Arab dan Muslim ketika mengumumkan keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Timur Tengah selama puluhan tahun, dengan Palestina berharap bahwa Yerusalem Timur - sekarang diduduki oleh Israel - bisa akhirnya menjadi ibu kota negara Palestina merdeka.