MOSKOW
Negara-negara ketiga menghadapi risiko melibatkan diri dalam perang di Ukraina jika mereka mengikuti "tuntutan" Kyiv, Rusia memperingatkan pada Rabu.
Berbicara pada konferensi pers di ibu kota Arab Saudi, Riyadh, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menuduh Kyiv mengambil "langkah provokatif" untuk menarik negara-negara Barat ke dalam konflik.
"Risiko seperti itu pasti ada. Apa yang dituntut rezim Kyiv dari pendukung Baratnya melampaui batas kesopanan dan merupakan provokasi yang ditujukan untuk melibatkan Barat dalam aksi militer," kata Lavrov.
Ada beberapa politisi di Eropa yang bersedia bergabung dalam konflik, kata Lavrov, menambahkan bahwa ada negara-negara yang serius memahami risiko skenario seperti itu.
"Posisi kami dalam hal ini telah dibawa ke negara-negara Barat, mereka tahu betul," ujar dia.
Lavrov juga mencatat bahwa Rusia telah mencapai kesepakatan dengan Turki untuk membersihkan ranjau di pelabuhan Ukraina untuk memastikan ekspor biji-bijian.
Dia mengatakan Moskow membuat syarat bahwa operasi semacam itu tidak boleh dilakukan dengan cara yang memperkuat Ukraina dan merusak posisi Rusia.
Menteri Rusia menekankan sekali lagi bahwa negaranya tidak menghalangi ekspor produk biji-bijian Ukraina.
Menurut dia, masalahnya terletak pada tidak adanya jalan keluar bebas dari pelabuhan negara itu karena ladang ranjau yang diletakkan oleh militer Ukraina.
“Selain itu, ada masalah dengan ekspor biji-bijian Rusia. Meski Barat dengan keras mengingatkan bahwa produk biji-bijian belum diberi sanksi, kapal yang membawa biji-bijian telah diberi sanksi – mereka tidak diterima di pelabuhan dan tidak diasuransikan, semua logistik dan rantai keuangan yang terkait dengan ekspor biji-bijian telah dikenai sanksi," urai dia.
Presiden AS Joe Biden mengumumkan pengiriman senjata baru ke Ukraina pada Rabu, termasuk sistem roket dan amunisi yang lebih canggih.
Menurut perkiraan PBB, setidaknya 4.113 warga sipil tewas dan 4.916 terluka di Ukraina sejak perang dimulai pada 24 Februari, dan jumlah korban sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi.
Lebih dari 6,8 juta orang telah melarikan diri ke negara lain, sementara lebih dari 7,7 juta telah mengungsi, menurut badan pengungsi PBB.