Rhany Chairunissa Rufinaldo
03 Mei 2019•Update: 04 Mei 2019
Elena Teslova
MOSKOW
Rusia sedang membentuk sebuah tim di PBB untuk menentang rencana Amerika Serikat di Venezuela, menurut Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, pada Kamis.
Lavrov mengatakan kepada wartawan di Tashkent, Uzbekistan, bahwa dia berharap bisa memperoleh dukungan serius di PBB.
"Karena itu adalah hal yang sangat sederhana, entah bagaimana sulit untuk mendistorsi itu, perlindungan terhadap norma-norma dasar dan prinsip-prinsip hukum internasional, seperti yang tertulis dalam Piagam PBB," ujar dia, tanpa menjelaskan lebih lanjut tentang kelompok tersebut.
Venezuela telah diguncang oleh protes sejak Januari ketika Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua setelah pemungutan suara yang diboikot oleh oposisi.
Ketegangan meningkat ketika Guaido, yang mengepalai Majelis Nasional Venezuela, menyatakan dirinya sebagai presiden pada 23 Januari, suatu langkah yang didukung oleh AS dan banyak negara Eropa dan Amerika Latin.
Sementara itu, Rusia, Turki, China, Iran, Bolivia dan Meksiko telah menyatakan dukungannya terhadap Maduro.
Dalam percakapan melalui telepon baru-baru ini dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Lavrov mengatakan mereka setuju untuk melanjutkan kontak soal Venezuela.
"Di satu sisi, kami, berdasarkan Piagam PBB, pada prinsip-prinsip dan norma-norma hukum internasional, dan di sisi lain posisi Amerika Serikat, yang menunjuk pejabat presiden negara lain, mengharuskan pihak berwenang yang sah untuk mengundurkan diri dan mengancam akan menggunakan kekuatan. Sikap itu tidak sesuai, tetapi kami siap untuk berbicara," tutur Lavrov.
Menanggapi niat AS untuk kembali ke doktrin Monroe tentang penentangan kolonialisme Eropa di belahan bumi Barat, Lavrov mengatakan bahwa itu adalah tanda tidak hormat kepada negara-negara Amerika Latin karena itu berarti merampas hak mereka untuk memilih politik mereka sendiri.
"Tidak benar bahwa Rusia membujuk Presiden Venezuela Nicolas Maduro untuk tinggal di negara itu," tambah dia.