Hayati Nupus
21 Mei 2019•Update: 21 Mei 2019
Muhammet Kursun dan Betul Yuruk
TEHRAN/NEW YORK
Kondisi hari ini bukanlah negosiasi, melainkan perlawanan dan perjuangan, ujar Presiden Iran Hassan Rohani pada Senin.
Dalam empat dekade terakhir, “orang-orang di Gedung Putih” berupaya melawan Iran dan berencana memerangi negara itu lewat tekanan serta senjata, ujar Rouhani dalam pertemuan dengan para ulama Syiah di Teheran, menambahkan bahwa seluruh elemen mengalami kulminasi atas apa yang terjadi kini.
“Musuh terus-menerus ingin Iran memulai ketegangan, namun kami tak melakukannya,” kata dia.
“Tak ada perbedaan pendapat antara orang-orang dan para pengelola negara terhadap sanksi AS, kata dia, menekankan dukungan pribadinya atas negosiasi dan diplomasi.
Dia mengatakan Departemen Luar Negeri AS menyerukan negosiasi hingga delapan kali.
Presiden AS Donald Trump membantah laporan yang menyebutkan bahwa Washington berupaya untuk bernegosiasi dengan Iran.
“Iran akan menghubungi kami jika dan kapan mereka siap,” kata Trump lewat Twitter.
“Sementara itu, ekonomi mereka terus runtuh—sangat menyedihkan bagi rakyat Iran!”
pernyataan itu berbeda dengan komentar yang Trump sampaikan pada Minggu, ketika dia mengingatkan Iran untuk melanjutkan konflik dengan AS, “Itu akan menjadi akhir resmi Iran!”
“Jangan pernah mengancam Amerika Serikat lagi!” ujar dia, tanpa merincikan ancaman apa itu, meski sebuah roket mendarat pada hari sebelumnya di Zona Hijau Baghdad, lokasi kedutaan AS berada.
Senin lalu, Duta Besar Iran untuk PBB Takht Ravanchi mengirimkan surat banding kepada Sekretaris Jenderal Antonio Guterres dan Dewan Keamanan, mendesak peluncuran “dialog diplomatik regional” demi meredakan “situasi keamanan yang mengkhawatirkan” saat ini di wilayah Teluk.
Dia memohon agar badan internasional tidak “acuh tak acuh.”
“Iran tidak akan pernah memilih perang, tapi jika dipaksakan perang, Iran akan penuh semangat menggunakan hak asasi untuk membela diri,” kata dia.
Dia menyarankan, jika krisis muncul, persoalan itu akan melampaui kawasan dan mengancam perdamaian serta keamanan internasional.
Ketegangan meningkat sejak Trump memutuskan secara sepihak untuk menarik AS dari pakta internasional agar Iran membatasi program nuklirnya.
Pada saat itu, para pemimpin Eropa mendesak Trump untuk tak melakukannya, memperingatkan peningkatan eskalasi di wilayah tersebut.
Pemerintahan Trump melanjutkan pembatalan perjanjian, termasuk penerapan kembali sanksi AS terhadap minyak Iran yang mulai berlaku penuh awal Mei.
Iran pada Senin meningkatkan pengayaan uranium hingga empat kali lipat, yang kemungkinan akan melanggar batas persediaan yang ditetapkan pada perjanjian 2015.
*ditulis oleh Jeyhun Aliyev