Meryem Goktas
AL-BAB, Syria
Dipaksa untuk tumbuh dewasa tanpa memiliki kesempatan menjalani masa kecil dengan damai, Muhammad Zaydawi yang masih berusia 14 tahun, menyediakan kebutuhan bagi keluarganya di Suriah yang dilanda perang.
Muhammad tinggal di kota Douma di timur laut Damaskus sebelum keluarganya terpaksa mengungsi ketika serangan meningkat.
"Di Douma, kami belajar dan belajar. Ayah saya terluka, dan kami dievakuasi ke Al-Bab [kota]," katanya, berbicara kepada Anadolu.
Seorang teman keluarga dekat yang juga terpaksa untuk mengungsi dari Douma, meminta Muhammad membantunya bekerja di garasinya.
"Ayah saya tidak bisa bekerja, jadi saya mencari pekerjaan. Teman ayah saya bekerja memperbaiki kendaraan. Ayah saya berbicara dengannya, jadi saya diminta mulai bekerja di sana," katanya.
"Saya meninggalkan rumah jam 9 pagi dan kembali jam 10 malam. Kadang saya pulang sendirian, kadang bersama bos saya."
Sementara konflik masih berkecamuk, mengungsi dan kekerasan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Suriah, banyak anak terpaksa mengambil peran sebagai penyedia keluarga.
Memikul tanggung jawab
"Ketika saya pergi di pagi hari, saya melihat anak-anak seusia saya pergi ke sekolah dengan tas sekolah mereka. Saya ingat saat-saat ketika saya pergi ke sekolah, dan saya berharap perang akan berakhir. Saya berharap ayah saya mendapatkan kembali kesehatannya dan saya berharap bisa kembali ke sekolah, "katanya.
Muhammad adalah anak tertua dari enam bersaudara.
"Saya bekerja untuk menghasilkan uang. Saya memenuhi kebutuhan mereka. Saya sadar bahwa saya memikul beban yang sangat besar. Meskipun beban ini terlalu berat untuk saya bawa sebagai seorang anak, saya harus mengurus mereka, "katanya.
Salah satu peristiwa yang tidak bisa dilupakan Muhammad adalah tentang serangan udara yang dia saksikan di kota kelahirannya.
"Ada cerita yang tidak bisa dilupakan dari pikiranku. Di Douma, ada sebuah toko tempat aku dulu menghabiskan waktu, ketika sebuah pesawat datang dan menghantam. Kami keluar dan melihat asap. Kupikir itu mengenai rumah kami, tetapi aku menemukan bahwa itu menyerang tetangga kami. Seluruh keluarga saya lari ke [rumah] tetangga dan kami menemukan seorang wanita terluka, "katanya.
Suriah telah terjebak dalam konflik yang menghancurkan sejak awal 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menindak demonstran dengan keras. Sejak itu, ratusan ribu orang telah terbunuh dan lebih dari 10 juta orang terlantar, menurut data PBB, sementara anak-anak terus menanggung beban paling berat dari konflik tersebut.
Ketika konflik berlanjut, anak-anak dipengaruhi bukan hanya oleh apa yang mereka saksikan, tetapi juga oleh kemiskinan yang mereka jalani. Selain itu, seringnya mengungsi menyebabkan penyimpangan dalam kehidupan anak-anak, khususnya memengaruhi akses mereka mengikuti pendidikan.
Menurut laporan UNICEF pada tahun 2018, sekitar 5,6 juta anak-anak Suriah terkena dampak konflik yang berlangsung, dan lebih dari 2,1 juta anak tidak bersekolah, sementara beberapa dari mereka belum pernah melihat bagian dalam kelas.
"Impian saya adalah untuk tumbuh dan menjadi insinyur seperti paman saya. Tetapi karena kondisi ini, saya tidak bisa belajar. Kami datang ke sini. Saya bekerja untuk orang itu. Saya berharap dari Allah untuk mempelajari profesi ini dengan sangat baik untuk dapat membuka toko saya sendiri," kata Muhammad.
news_share_descriptionsubscription_contact
