Rhany Chairunissa Rufinaldo
22 Januari 2019•Update: 22 Januari 2019
Walid Abdullah
TRIPOLI
Para kepala suku di Libya menengahi kesepakatan gencatan senjata untuk menghentikan bentrokan antara milisi saingan di Tripoli yang berlangsung selama empat hari dan menewaskan 15 orang.
Konflik itu terjadi antara Brigade Infanteri Ketujuh dari kota Tarhuna, yang sebelumnya bersekutu dengan Kementerian Pertahanan yang bermarkas di Tripoli, melawan Pasukan Perlindungan Tripoli, yang berafiliasi dengan pemerintah persatuan yang didukung PBB.
Sedikitnya 15 orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam kekerasan itu.
Gencatan senjata diumumkan saat konferensi pers yang diadakan di Tripoli pada Senin malam, tanpa memberikan rincian waktu pemberlakuannya.
Kesepakatan itu menyerukan penarikan pasukan kedua pihak 15 kilometer dari posisi saat ini serta pertukaran tahanan dan jenazah dari mereka yang tewas dalam bentrokan.
Pada Rabu, Misi Dukungan PBB di Tripoli (UNSMIL) meminta para pihak yang bertikai untuk menghormati gencatan senjata yang dicapai pada September setelah berhari-hari bentrokan berdarah di jalanan ibu kota.
Libya masih dirundung gejolak politik sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan penggulingan dan kematian Presiden Muammar Gaddafi setelah lebih dari empat dekade berkuasa.
Sejak saat itu, perpecahan politik Libya membagi dua kursi kekuasaan yang saling bersaing - satu di Tobruk dan satu lagi di Tripoli - dan sejumlah kelompok milisi bersenjata lengkap.