Maria Elisa Hospita
29 November 2018•Update: 30 November 2018
Selen Temizer, Aliia Raimbekova
ASTANA, Kazakhstan
Perundingan damai Suriah ke-11 yang mempertemukan representatif Rusia dengan representatif rezim Bashar al-Assad Suriah dimulai pada Rabu, di Astana, Kazahkstan.
Jelang pertemuan itu, Alexander Lavrentiev, utusan khusus presiden Rusia untuk Suriah, mengatakan bahwa pembentukan komite konstitusional, gencatan senjata di Idlib, masalah pengungsi, dan perang melawan terorisme akan didiskusikan.
Pertemuan Kelompok Kerja Astana untuk membebaskan para tahanan juga akan digelar pada Sabtu. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi proyek percontohan pembebasan tahanan Suriah secara bersamaan baik dari rezim Assad maupun pihak oposisi.
Menurut Kementerian Luar Negeri Turki, Proyek Pelepasan Tahanan, Penyerahan Jenazah, dan Identifikasi Orang Hilang dilaksanakan sebagai bagian dari proses Astana dengan partisipasi Turki, Rusia, dan Iran, yang merupakan tiga negara penjamin proses Astana.
Pada Selasa, PBB mengatakan utusan Suriahnya Staffan De Mistura akan menemui pejabat tinggi dari negara penjamin di Astana untuk membentuk komite untuk menuliskan konstitusi baru bagi Suriah.
Kemudian, pada Rabu, Kementerian Luar Negeri Kazakhstan mengumumkan kedatangan semua pihak di Astana.
Delegasi Turki yang diwakili oleh Wakil Menteri Luar Negeri Sedal Onal diperkirakan akan menggelar pertemuan dengan kelompok oposisi, dan perwakilan Rusia dan Iran.
Hussein Gabri Ansari, asisten menteri luar negeri untuk urusan Arab dan Afrika, mewakili delegasi Iran. Sementara Alexander Lavrentiev, utusan khusus presiden Rusia untuk Suriah, mewakili Rusia.
Rezim Suriah akan diwakili oleh Bashar Jaafari, perwakilan permanen rezim untuk PBB.
Konflik di Suriah meletus pada 2011, ketika rezim Assad menyerang kelompok demonstran dengan brutal.