Burak Karacaoğlu dan Esref Musa
18 Desember 2017•Update: 19 Desember 2017
Burak Karacaoğlu dan Esref Musa
IDLIB
Penduduk yang diungsikan dari Aleppo dan pindah ke kamp-kamp evakuasi di Idlib, dekat perbatasan Turki-Suriah, terus berharap bisa pulang ke rumah mereka di Aleppo.
Penghuni kamp Nour, dibangun oleh beberapa LSM setempat, mengatakan kepada Anadolu Agency pada Minggu betapa mereka merindukan rumah setelah genap setahun tinggal di pengungsian.
"Setelah pengepungan selama beberapa bulan, kami dipaksa meninggalkan Aleppo. Namun kami akan kembali. Saya kehilangan rumah di mana saya tumbuh besar dan juga membesarkan anak-anak saya. Tapi saya tidak akan pernah menyerah, saya ingin pulang ke Aleppo," kata Ahmad Dado, seorang penghuni kamp, kepada Anadolu Agency.
Dado mengatakan kamp yang ditempatinya beberapa bulan belakangan tidak menerima bantuan kemanusiaan sama sekali.
"Di Aleppo kami menghadapi ancaman pasukan Assad, di Idlib kami menghadapi ancaman kelaparan," tuturnya.
Halid Deruzi, 56 tahun, juga mengatakan ingin segera kembali ke Aleppo.
"Saya selalu berharap bisa cepat pulang ke Aleppo, walaupun hidup kami susah di sana. Kami minum air asin dan roti busuk. Tapi saya lahir dan besar di sana," ungkapnya. "Di Aleppo, istri dan kedua anak saya tewas."
Faize Idris juga harus mengucapkan selamat tinggal kepada dua anaknya yang tewas di Aleppo. Atas kejadian tragis itu, dia menyalahkan pemimpin rezim Suriah Bashar al-Assad.
"Saya susah payah membesarkan anak-anak saya, tapi keduanya kemudian dibunuh oleh Assad. Nanti bila Aleppo sudah aman, kami akan pulang. Saya rela tinggal di tenda asalkan tenda itu berada di Aleppo," kata perempuan itu.
Pada 2016 lalu, pasukan rezim Assad mengepung Aleppo, sehingga 300.000 penduduk kota itu terjebak dan tidak bisa keluar-masuk selama empat bulan. Pengepungan itu menjadi salah satu krisis kemanusiaan terparah di Suriah, namun berakhir setelah persetujuan gencatan senjata yang ditengahi Turki pada 13 Desember.
Pengungsian segera dilakukan oleh pihak Ankara dan Moskow antara 15 dan 22 Desember.
Sekitar 45.000 penduduk Aleppo menginap di kamp-kamp Idlib, dekat perbatasan Turki.