Rhany Chairunissa Rufinaldo
09 April 2019•Update: 10 April 2019
Walid Abdullah
TRIPOLI
Pemerintah Libya yang berbasis di Tripoli mengecam serangan di Bandara Internasional Mitiga sebagai kejahatan perang.
"Pemboman bandara itu bertentangan dengan hukum setempat, perjanjian internasional, ajaran agama dan prinsip-prinsip kemanusiaan," kata Dewan Presiden dalam sebuah pernyataan.
"Penyerangan bandara telah memperburuk penderitaan para korban yang akan dipindahkan ke luar negeri untuk perawatan," tambahnya.
Pesawat-pesawat tempur yang berafiliasi dengan pemerintah timur Libya dan pasukan yang setia kepada komandan militer Khalifa Haftar menyerang bandara pada Senin.
Seorang pejabat bandara mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa bandara itu telah dievakuasi dan semua lalu lintas udara ditangguhkan.
Kamis lalu, Haftar meluncurkan operasi militer dengan tujuan menguasai Tripoli, namun, setelah sempat sukses di awal, kampanye itu terhenti pada Senin.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras eskalasi kekerasan itu, termasuk serangan di bandara Mitiga.
"Sekretaris Jenderal mendesak penghentian segera semua operasi militer untuk meredakan situasi dan mencegah konflik habis-habisan," ujar Stephane Dujarric, juru bicara Guterres, dalam sebuah pernyataan.
"Dia menekankan bahwa tidak ada solusi militer untuk konflik Libya dan menyerukan semua pihak untuk melakukan dialog segera untuk mencapai solusi politik. Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal di Libya siap untuk memfasilitasi dialog itu," tambah Dujarric.
Libya masih dilanda krisis kekerasan sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan penggulingan dan terbunuhnya Presiden Muammar Khaddafi setelah empat dekade berkuasa.
Sejak itu, perpecahan politik Libya menghasilkan dua kursi kekuasaan saingan - satu di Al-Bayda dan satu lagi di Tripoli - bersama dengan sejumlah kelompok milisi bersenjata berat.
*Michael Hernandez berkontribusi pada berita ini dari Washington