Rhany Chairunissa Rufinaldo
24 Oktober 2019•Update: 25 Oktober 2019
Dildar Baykan, Servet Gunerigok
WASHINGTON
Seorang pejabat senior Gedung Putih pada Rabu mengatakan bahwa Amerika Serikat belum menemukan adanya bukti pembersihan etnis oleh Turki di timur laut Suriah.
"Sampai sekarang, saya pikir kita belum melihat bukti pembersihan etnis. Jadi, itu akan menjadi hal yang sangat serius jika terjadi," kata pejabat itu kepada wartawan melalui telepon, tanpa bersedia disebutkan namanya.
Turki meluncurkan Operasi Mata Air Perdamaian pada 9 Oktober untuk mengamankan perbatasannya dengan menghilangkan unsur-unsur teroris guna memastikan kembalinya pengungsi Suriah dengan aman dan integritas wilayah Suriah.
Langkah itu menuai kritik dari para penentang di seluruh dunia yang mengklaim militer Turki melakukan pembersihan etnis terhadap penduduk Kurdi di timur laut Suriah.
"Saya harap itu tidak akan terjadi. Kami telah diberitahu oleh rekan-rekan kami dari Turki bahwa tidak ada rencana seperti itu. Jadi, saya tidak berharap itu terjadi," tambah pejabat itu.
Konfirmasi melalui telepon itu dilakukan beberapa jam setelah Washington mencabut semua sanksi yang dijatuhkan terhadap Ankara atas operasinya, termasuk dua kementerian dan tiga menteri Turki.
"Kami menantikan hubungan baik dengan Turki, yang merupakan anggota NATO. Kami juga berharap untuk melanjutkan hubungan yang baik dengan Kurdi di Suriah. Kami jelas berharap yang terbaik di Suriah," kata pejabat itu, merujuk pada PKK/YPG.
Pada Selasa, Turki dan Rusia mencapai 10 poin kesepakatan tentang Suriah selama pertemuan bersejarah antara kedua presiden, beberapa jam sebelum masa penangguhan operasi berakhir.
Ankara dan Moskow mencapai kesepakatan di mana teroris PKK/YPG akan mundur 30 kilometer (19 mil) dari perbatasan Turki dengan Suriah utara dalam waktu 150 jam dan pasukan keamanan dari Turki dan Rusia akan melakukan patroli bersama di sana.
Dalam lebih dari 30 tahun kampanye terornya melawan Turki, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian sekitar 40.000 orang, termasuk wanita, anak-anak dan bayi.