Turki, Dunia, Repertoar

Pegunungan: Ekosistem penting untuk habitat satwa liar dan kemanusiaan

Ekosistem Montane adalah rumah bagi setengah dari hotspot keanekaragaman hayati dunia, sebagian besar sumber daya air, dan spesies endemik besar

Burak Bir   | 25.12.2019
Pegunungan: Ekosistem penting untuk habitat satwa liar dan kemanusiaan Ilustrasi: Wilayah Pegunungan. (Foto file - Anadolu Agency)

Ankara

ANKARA 

Ekosistem Montane, yang menampung habitat dan spesies satwa liar, memainkan peran penting dalam kehidupan manusia.

Namun demikian, Montane kini berada di bawah sejumlah ancaman.

Pada 2003, Majelis Umum PBB menetapkan 11 Desember sebagai "Hari Gunung Internasional" untuk menekankan pentingnya pengembangan gunung yang berkelanjutan.
"Distribusi pegunungan di muka Bumi, di mana 90 persen tetap berada di sepanjang garis linear, menunjukkan gunung-gunung bukanlah bentuk tanah yang terjadi secara acak," ujar Abdurrahman Dokuz, ahli geologi di Universitas Gumushane Turki, kepada Anadolu Agency.

Menjelaskan bahwa gunung merupakan daerah terestrial dengan topografi yang tinggi dan landai dibandingkan dengan daerah di sekitarnya, Dokuz mengatakan ada empat jenis utama gunung yakni terlipat atau kompleks, sesar, vulkanik, dan terurai.

"Pegunungan lipatan, yang juga dikenal sebagai mountain belts, naik di sepanjang batas lempeng litosfer kontinental yang saling berdekatan ... Sabuk Alpine-Himalaya, Pegunungan Ural, Appalachian, dan Caledonit adalah contoh paling indah di antara mereka," ucap dia.

Dia mengatakan pulau-pulau di Hawaii merupakan contoh dari gunung berapi di kerak samudera, sedangkan Ararat, Argaeus, Hasandag dan Nemrut ve Suphan merupakan gunung berapi individu di Turki dan di bawah Taman Nasional Yellowstone di AS adalah 'supervolcano' dengan kaldera atau kawah gunung berapi besar dengan diameter sekitar 60 kilometer atau 37 mil.

Dia mengatakan gunung-gunung bertingkat berkembang dari batas lempeng dan merupakan daerah perbukitan yang muncul sebagai akibat erosi dataran tinggi di lembah-lembah.

Mengacu pada pentingnya gunung sebagai sumber utama air tawar, dia mengatakan meskipun tiga perempat permukaan dunia ditutupi dengan air, hanya 2,5 persen dari cadangan air adalah air tawar.

Sebagian besarnya ada di daerah kutub dalam bentuk gletser di pegunungan dekat kutub.

"Dibandingkan dengan daerah pantai, suhu hingga 20 derajat lebih rendah, yang memungkinkan salju di puncak perlahan mencair. Dengan demikian, air tanah, aliran dan mata air pegunungan dapat diumpankan selama musim kemarau dengan sedikit atau tanpa hujan," tambah dia.

'Pegunungan memengaruhi iklim dan dipengaruhi oleh perubahan iklim'

"Ekosistem Montane yang memengaruhi iklim dengan karakteristiknya, seperti ketinggian, telah dipengaruhi oleh iklim sebagai akibat dari perubahan iklim global," ujar Ahmet Emre Kutukcu, pakar satwa liar World Wildlife Fund (WWF) Turki, kepada Anadolu Agency .

Kutukcu mengatakan sumber daya air di pegunungan berada dalam bahaya.

Dia juga mencatat spesies paling terancam punah akibat perubahan iklim dataran tinggi dan kepulauan.

Dia juga menyebutkan setengah dari 35 titik keanekaragaman hayati di seluruh dunia ada di ekosistem pegunungan.

Ekosistem ini, kata dia, sangat sensitif dan memiliki keanekaragaman hayati yang unik serta rumah bagi spesies endemik besar.

"Banyak sumber air berasal dari pegunungan, karena gunung-gunung itu mengandung salju dan gletser permanen. Jadi dalam pengertian ini, pegunungan tinggi atau ekosistem pegunungan sangat penting bagi manusia dan spesies satwa liar,” kata dia.

Kutukcu mencatat ancaman lainnya terhadap ekosistem pegunungan adalah aktivitas pertanian yang dapat menyebabkan erosi.

Menekankan banyaknya kegiatan penambangan dilakukan di ekosistem pegunungan, Kutukcu mengatakan kegiatan seperti penggalian dan penambangan emas merupakan ancaman besar karena dapat mempengaruhi keanekaragaman hayati.

"Pembangunan jalan bagi orang-orang untuk mencapai ekosistem gunung sama saja membuka peluang lebih banyak perburuan, polusi, dan limbah," kata dia, merujuk pada urbanisasi.

Dia menambahkan perburuan liar merupakan ancaman lain bagi ekosistem pegunungan, terutama bagi mamalia seperti kambing liar, chamois dan macan tutul serta belibis kayu, ayam hutan dan burung nasar yang hidup di habitat ini.

"Degradasi struktur salju glasial dan permanen di ekosistem pegunungan tinggi mengurangi keseimbangan kekeringan-presipitasi dan pembentukan faktor-faktor yang mempengaruhi iklim meningkatkan risiko kebakaran," kata dia, merujuk pada fakta bahwa degradasi struktur geologi pegunungan mempengaruhi sumber makanan dan air dan pada gilirannya orang.

Dia mengatakan ekosistem gunung tinggi terdiri dari daerah yang dimulai dengan sabuk hutan di bagian bawah, kemudian sabuk alpine dan berlanjut melalui padang rumput dan semak belukar, dan pada tingkat tertinggi, ada massa salju permanen yang berisi lumut dan duri/

"Distorsi antara bagian-bagian ini karenanya melumpuhkan seluruh ekosistem," kata dia.

Untuk melindungi gunung, dia pertama kali menyarankan perlunya mengembangkan dan menerapkan peraturan hukum.

Selain itu, kata dia, aspek ekologis dan budaya harus diprioritaskan daripada keuntungan bisnis dari kegiatan pertambangan.

Warga juga harus dicegah terlibat dalam kegiatan yang mengurangi habitat satwa liar.

Dia menambahkan promosi pariwisata ekologis dan kegiatan peternakan lebah yang tak membuat migrasi manusia ke ekosistem tinggi dan tanpa merusak keanekaragaman hayati bisa menjadi langkah positif menuju pelestarian gunung.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.