Muhammad Abdullah Azzam
11 Juni 2019•Update: 12 Juni 2019
Dildar Baykan
PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengutuk serangan terhadap sebuah desa milik etnis Dogon di Mali yang menewaskan 95 orang.
Dalam pernyataan tertulis dari juru bicaranya, Sekjen PBB Guterres terkejut oleh penyerangan yang menewaskan 95 orang, termasuk wanita dan anak-anak dalam serangan bersenjata terhadap sebuah desa milik etnis Dogon di wilayah tengah Mali.
"Guterres sangat mengutuk serangan tersebut serta mendesak pemerintah Mali untuk menyelidiki tragedi ini lalu menyeret mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan," ungkap pernyataan tertulis itu.
Guterres menekankan pihaknya mengajak semua pihak untuk menyelesaikan masalah ketegangan serta mengundang semua aktor untuk membangun dialog antar-masyarakat.
Mali, salah satu negara termiskin di dunia, menderita karena kehadiran sejumlah kelompok teror, di mana pasukan penjaga perdamaian Prancis, Mali dan PBB melancarkan operasi kontraterorisme.
Ketegangan di Mali dimulai pada 2012 setelah kudeta yang gagal dan pemberontakan Touareg yang pada akhirnya memungkinkan kelompok-kelompok militan yang terkait al-Qaeda untuk mengambil alih bagian utara negara itu.
Pada 2015, kesepakatan damai ditandatangani antara pemerintah dan beberapa kelompok pemberontak.
Perselisihan politik dan masyarakat terus memicu ketegangan di Mali utara, sehingga merusak implementasi perjanjian perdamaian.
Setidaknya 160 orang tewas, 65 terluka dan banyak rumah dibakar dalam insiden serangan terhadap penduduk Fulani di desa Ogossagou oleh orang-orang bersenjata dengan mengenakan pakaian pemburu Dozo pada 23 Maret lalu.
Operasi Barkhane yang dilancarkan pasukan Perancis dengan empat ribu pasukan bersama pasukan penjaga perdamaian Misi Stabilisasi Terintegrasi Multidimensi PBB di Mali (MINUSMA) dengan jumlah 15 ribu pasukan hingga kini masih belum berhasil mengatasi masalah keamanan di negara tersebut.