Muhammad Abdullah Azzam
31 Januari 2024•Update: 11 Juli 2024
ISTANBUL
Para duta besar kelompok negara-negara Berkembang D-8 berkumpul pada jamuan makan malam pada Senin di ibu kota Turkiye.
Acara tersebut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Duta Besar D-8 Isiaka Abdulqadir Imam, Duta Besar Bangladesh Amanul Haq, Duta Besar Pakistan Yusuf Cuneyd, Direktur Jenderal Urusan Ekonomi Multilateral Türkiye Esen Altug, Direktur Berita Global Anadolu Faruk Tokat dan lainnya.
Saat menyampaikan pidato pembukaan, Imam mengatakan D-8 berupaya meningkatkan visibilitasnya secara global sekaligus meningkatkan hubungan perdagangan antar negara anggota.
Imam mengatakan D-8 sangat mementingkan tahun 2023 terkait program dan kegiatan yang bertujuan untuk membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.
Sekretaris Jenderal juga mencatat Mesir diperkirakan akan mengambil alih kursi D-8 pada masa jabatan berikutnya.
Sementara itu, Altug mengatakan D-8 telah membuktikan perannya di masa-masa sulit dan telah mencapai kemajuan signifikan dalam bidang kerja sama antar negara anggota.
Altug menggarisbawahi masih ada langkah-langkah yang harus diambil untuk mengungkap potensi organisasi yang bekerja untuk kesejahteraan 1,1 miliar penduduk di kelompok negara tersebut.
“Perkembangan paling mendesak dan mencolok yang memerlukan perhatian D-8 adalah apa yang terjadi di Gaza,” ujar dia.
Organisasi D-8 diluncurkan pada 15 Juni 1997, setelah Perdana Menteri Turkiye saat itu Necmettin Erbakan, mengusulkan pembentukan kelompok ekonomi yang terdiri dari delapan negara berkembang dari dunia Muslim, yaitu Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan dan Turkiye.