Muhammad Abdullah Azzam
27 Februari 2019•Update: 28 Februari 2019
Emre Aytekin
ANKARA
Pakistan menyerukan kepada Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk turun tangan dalam mengatasi ketegangan antara negaranya dengan India setelah peristiwa serangan teror yang terjadi pada 14 Februari lalu di Jammu Kashmir.
Media lokal melaporkan Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureshi mengatakan pada sebuah konferensi pers di Islamabad bahwa Pakistan telah mengajukan permohonan kepada OKI untuk menengahi konflik antara Pakistan dan India soal masalah di Kashmir.
Menlu Qureshi mengungkapkan Grup Kontak Kashmir di OKI memutuskan akan mengadakan pertemuan hari ini di Jeddah atas permintaan Pakistan.
"Pertemuan itu akan berfokus pada tindakan pemerintah India setelah serangan terhadap pasukan keamanan India di bagian Kashmir yang diduduki India," ungkap pernyataan OKI.
Pertemuan itu bertepatan sebelum pertemuan KTT OKI di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab pada 1-2 Maret.
Ketegangan antara Pakistan dan India kembali meningkat setelah terjadi peristiwa serangan di Kashmir pada 14 Februari lalu.
Sebuah bom mobil mematikan yang meledak pada 14 Februari menewaskan sedikitnya 44 pasukan paramiliter di Jammu dan Kashmir, di mana pemerintah India menuding Pakistan sebagai aktor dibalik serangan.
Jammu dan Kashmir, sebuah wilayah di Himalaya yang mayoritas penduduknya Muslim, yang sebagian masing-masing dikuasai oleh India dan Pakistan, dimana kedua negara mengklaim menguasai Khasmir secara keseluruhan.
Sementara China juga menguasai sebagian kecil Khasmir.
Kelompok Kashmir telah lama berperang melawan pemerintahan India untuk kemerdekaan atau untuk menyatu dengan negara tetangga Pakistan.
Menurut sejumlah organisasi hak asasi manusia, ribuan orang dilaporkan tewas dalam konflik di wilayah tersebut sejak 1989.
Sejak mereka berpisah pada 1947, India dan Pakistan telah berperang sebanyak tiga kali - pada 1948, 1965 dan 1971 - dua di antaranya soal Kashmir.