Pizaro Gozali İdrus
02 Januari 2019•Update: 02 Januari 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Militer Filipina menegaskan ancaman keamanan masih terjadi di wilayah Cotobato setelah terjadinya ledakan bom, lansir CNN Phillipines pada Rabu.
Kepala Angkatan Darat Filipina Mayjen Cirilito Sobejana mengatakan pasukan keamanan tetap waspada terhadap serangan susulan setelah terjadinya ledakan.
"Kami telah menerima ancaman bahkan sebelum ledakan 31 Desember lalu. Ancaman itu telah ada selama beberapa bulan lalu. Tapi tentu saja kami tidak menurunkan pengawasan kami. Kami tetap waspada," katanya kepada CNN Filipina.
Namun, Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana mengatakan tidak ada indikasi bahwa akan adanya aksi pemboman lainnya.
Sobejana mengatakan berdasarkan penyelidikan awal, alat peledak yang digunakan menggunakan tanda tangan Daulah Islamiyah atau kelompok Toraife yang dipimpin oleh Salahuddin Hassan.
Salahuddin adalah seorang pemimpin faksi yang memisahkan diri dari Pejuang Kebebasan Islam Bangsamoro (BIFF).
Sobejana mengatakan mereka memiliki petunjuk baru berdasarkan rekaman kamera keamanan.
Sobejana mengaku telah mengantongi nama-nama tersangka dan perburuan sedang berlangsung untuk menangkap pelaku.
"Kami sedang memantau rencana mereka lainnya. Kami tidak ingin mereka berhasil dalam kegiatan teror mereka di Cotabato," katanya.
Front Pembebasan Islam Moro (MILF) telah mengutuk ledakan mematikan di Cotabato.
“Tindakan menempatkan alat peledak improvisasi (IED) dengan maksud untuk membunuh atau membahayakan warga sipil itu adalah tindakan yang pengecut, tidak manusiawi dan kejam,” kata kelompok tersebut dalam sebuah pernyataan.
Sedikitnya dua orang tewas dan puluhan orang lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di luar sebuah pusat perbelanjaan di Cotobato City, Mindanao, Filipina, Senin.
Ledakan diduga berasal dari sebuah peledak rakitan.
Provinsi Mindanao, yang berbatasan dengan Malaysia dan Indonesia, telah lama dihantui oleh berbagai serangan teroris.
Sedikitnya 10 orang terbunuh pada Juli 2018 ketika para militan menyerang sebuah pos pemeriksaan militer dengan sebuah bom mobil.