Surya Fachrizal Aprianus
04 Juni 2019•Update: 04 Juni 2019
Ali Murat Alhas
ANKARA
Menteri Muslim dan para wakil mereka di Sri Lanka, bersama dengan dua gubernur, mengumumkan pengunduran diri mereka pada Senin.
Para pejabat senior memutuskan untuk mengundurkan diri dengan mengutip "kegagalan pemerintah untuk memastikan keselamatan umat Islam setelah serangan Minggu Paskah," mengutip situs colombopage.com.
Pada 21 April, Minggu Paskah, delapan ledakan menargetkan lokasi berbeda di dalam dan di luar ibukota Sri Lanka, Kolombo, menewaskan sedikitnya 250 orang. Pemerintah menuduh National Thowheed Jamaath (NTJ), kelompok Muslim setempat, sebagai pelaku serangan.
Menteri Jalan Raya dan Pembangunan Jalan dan Pengembangan Sumber Daya Minyak Kabir Hashim mengatakan "kelompok-kelompok tertentu" berusaha untuk mengguncang Sri Lanka meskipun semua anggota yang berafiliasi dengan serangan itu telah ditangkap.
Dia menambahkan, anggota Kabinet Muslim mengundurkan diri dengan tujuan untuk melindungi negara.
Langkah para pejabat Muslim itu dilakukan setelah Athuraliye Rathana, biksu Buddha garis keras parlemen, melancarkan puasa hingga Mei 31, untuk menuntut pengunduran diri para gubernur di provinsi-provinsi Barat dan Timur bersama dengan seorang menteri, Rishad Bathiudeen, yang menuduh memiliki hubungan dengan NTJ.
Puasa Rathana memasuki hari keempat dan dukungan menyebar ke seluruh negeri, membuat kemungkinan serangan gerombolan lebih lanjut terhadap komunitas Muslim.
Menjelang serangan teror Paskah, pemerintah sementara memberlakukan jam malam nasional. Hal itu diberlakukan kembali setelah beberapa masjid dan toko milik Muslim diserang oleh massa dan terbunuhnya seorang pria Muslim.