Dunia

Masa depan Afrika terhubung dengan teknologi

Digitalisasi telah memengaruhi banyak sektor di Afrika, mulai dari komunikasi, transportasi, hingga pertanian

Umar İdris   | 14.08.2019
Masa depan Afrika terhubung dengan teknologi Suasana ruang sidang di Gedung Uni Afrika di Addis Ababa, Ethiopia pada 17 November 2018. (Minasse Wondimu Hailu - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

James Tasamba, Ekip 

KIGALI

Masa depan Benua Afrika terkait erat dengan teknologi, dan menawarkan janji besar untuk pertumbuhan dan perkembangan kawasan di semua sektor ekonomi.

Setidaknya 239 juta orang di seluruh wilayah itu telah terhubung ke internet pada akhir 2018, menurut laporan baru-baru ini oleh Global System for Mobile Communications Association (GSMA), asosiasi operator jaringan seluler di seluruh dunia.

"Konsumen digital di seluruh Afrika memicu pertumbuhan pelanggan dan mendorong adopsi layanan baru yang diperlukan untuk memberdayakan kehidupan dan mengubah bisnis di benua itu," kata Eugene Kiminine, pakar teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di ibukota Rwanda Kigali, kepada Anadolu Agency. 

Diperkirakan sebanyak 483 juta orang di Afrika, mewakili hampir 40% dari populasi di benua itu, akan memiliki jaringan mobile internet pada tahun 2025, menurut sebuah laporan oleh GSMA yang bertajuk "Mobile Ekonomi Sub-Sahara Afrika 2019".

Kiminine mengatakan bahwa masa depan benua dan kemakmuran ekonominya akan sangat tergantung pada teknologi.

Salah satu sektor di Afrika yang terdampak digitalisasi adalah transportasi. Kiminine mengatakan aplikasi ponsel sekarang telah membuat penggunaan ojek lebih aman dan nyaman.

Guna mempertahankan rekam jejak yang baik, seorang ojek online harus mencapai peringkat setidaknya 90 dari 100.

Solusi teknologi digital juga telah dirancang untuk mengatasi tantangan pertanian. Kiminine mengatakan, mengutip Plantheus, sebuah aplikasi pertanian yang menggunakan kecerdasan buatan dan pengenalan gambar untuk membantu petani mendiagnosis penyakit tanaman dan merekomendasikan praktik terbaik untuk hampir semua jenis penyakit tanaman di pertanian mereka.

Ekosistem digital di Afrika membuka peluang pekerjaan sekitar 3,5 juta pekerjaan secara langsung dan tidak langsung, dan pada tahun 2018, telah menyumbang hampir US$ 15,6 miliar untuk pendanaan proyek-proyek infrastruktur publik melalui pajak konsumen dan operator, menurut laporan GSMA.

Afrika memprioritaskan sektor Informasi, Komunikasi dan Telekomunikasi (ICT) bertransformasi secara penuh ke digital, termasuk menyediakan jaringan internet untuk semua warga, dan penetrasi menyeluruh perangkat mobile seluler (smartphone).

Misalnya pemerintah Rwanda, memasang target ambisius untuk mencapai literasi digital kepada semua warga berusia 16 hingga 30 tahun pada 2024 karena menganggap pentingnya peran teknologi digital bagi pembangunan negara itu.

Kenya baru-baru ini meluncurkan cetak biru ekonomi digital untuk Afrika yang jika diadopsi akan membantu negara-negara Afrika mewujudkan potensi penuh dari hasil transformasi digital.

Cetak biru tersebut menyoroti lima pilar untuk pengembangan ekonomi digital, termasuk infrastruktur digital dan ketersediaan infrastruktur yang terjangkau, mudah diakses, tangguh, dan andal serta konektivitas internet yang murah untuk bisnis dan rumah tangga di Afrika.

“Teknologi digital berpotensi menawarkan peluang besar. Konektivitas internet yang murah untuk bisnis dan rumah tangga di Afrika adalah kunci untuk membuka potensi ekonomi digital, ”kata Kiminine.

Di Kenya, pelanggan internet dan data aktif mencapai 42,2 juta pelanggan pada tahun 2018, sementara pelanggan jaringan broadband mencakup lebih dari 45 persen populasi, menurut angka resmi.

Kehadiran dan penggunaan layanan dan platform digital dapat memungkinkan penyampaian layanan publik yang cepat, kata pakar TIK. Seperti di Kenya, pemerintah mendigitalkan lebih dari 200 layanan penting seperti pendaftaran bisnis, akta kelahiran, dan pengembalian pajak.

Menurut Bank Dunia, agar teknologi digital dapat memberi manfaat bagi semua orang di mana pun lokasinya, pemerintah perlu mengurangi kesenjangan digital, terutama dalam akses internet.

Sebab itu tantangan yang tersisa untuk Afrika berupa konektivitas internet, karena lebih dari tiga perempat penduduknya tetap offline.

Tantangan inovasi

Namun, Africa50, platform investasi infrastruktur pan-Afrika, telah meluncurkan Tantangan Inovasi yang bertujuan membantu meningkatkan akses internet di benua itu.

Dengan platform yang diluncurkan pada Mei, Africa50 melakukan solusi inovatif bersama untuk membantu meningkatkan akses internet berkecepatan tinggi di daerah-daerah yang kurang terlayani di Afrika.

Tantanga tersebut terbuka bagi pengembang TIK, inovator, developer teknologi, dan wirausahawan digital untuk mengirimkan solusi yang dapat diterapkan melalui portal online untuk dinilai oleh tim investasi Africa50 dan mitra-mitranya.

Lacina Kone, direktur jenderal Smart Africa, entitas yang menyelenggarakan Transform Africa Summit, mengatakan Tantangan Inovasi Africa50 sejalan dengan visi Smart Africa untuk mengembangkan pasar digital tunggal di benua itu.

Para ahli lain menyatakan bahwa teknologi disiapkan untuk menjadi pengubah permainan bagi pembangunan Afrika dan mengurangi kesenjangan dan ketimpangan pendapatan di benua itu.

Bart Hofker, kepala eksekutif MTN Rwanda, perusahaan telekomunikasi seluler terbesar di negara itu, berpendapat bahwa ada korelasi yang kuat antara akses kepada konektivitas dan pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan.

Bank Pembangunan Afrika telah memproyeksikan bahwa dua juta pekerjaan akan diciptakan di sektor TIK di Afrika pada tahun 2021, termasuk pemrograman analitis, jaringan komputer, dan pekerjaan untuk administrator berbasis data dan sistem.

Paula Ingabire, Menteri TIK dan Inovasi Rwanda, mengatakan pemerintahnya menerapkan Program Duta Besar Digital, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah warga yang melek secara digital dan mempercepat penggunaan layanan e-government dan e-bisnis.

Rwanda dikenal sebagai salah satu negara di benua Afrika dengan perkembangan TIK yang tumbuh cepat.

Penetrasi internet di Rwanda mencapai lebih dari 52,1 persen, naik pesat dibandingkan tahun 2011 yang tumbuh 7 persen. Sementara penetrasi telepon telah tumbuh menjadi lebih dari 80,6 persen, naik dari tahun 2010 yang tumbuh 33 persen, menurut Kementerian TIK dan Inovasi Rwanda.

Secara global, International Telecommunications Union memperkirakan bahwa pada akhir 2019, sekitar 51,2 persen dari populasi, atau 3,9 miliar orang, menggunakan Internet.

Kewarganegaraan digital adalah hak untuk semua orang Afrika, dan bagi mereka untuk menggunakan hak itu, kita perlu membekali mereka dengan keterampilan yang diperlukan dan menempatkan ekosistem yang memungkinkan kewarganegaraan digital itu berjalan, kata Ingabire.


Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.