25 Februari 2018•Update: 26 Februari 2018
Mucahit Turetken dan Ammar Nas
ISTANBUL
Mantan pemimpin politik Hamas Khaled Meshaal pada Sabtu mengecam keputusan Amerika Serikat (AS). untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Washington mengumumkan pada hari Jumat bahwa mereka akan memindahkan kedutaan besarnya pada 14 Mei, bertepatan dengan hari negara Israel didirikan dan secara resmi diakui oleh AS pada 1948.
"Kami menentang keputusan ini dan kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kami akan menentang perlawanan apapun terhadap Palestina," kata Meshaal, saat berbicara di simposium mengenai perang, migrasi dan kemiskinan yang diselenggarakan Universitas Fatih Sultan Mehmet, Istanbul.
"Kami berharap Turki akan memberi tekanan pada AS," kata Meshaal.
"Turki membantu Gaza, Al-Quds [Yerusalem], Irak, Myanmar dan banyak negara di Afrika. Saya percaya Turki akan mendapatkan sesuatu yang baik melalui usaha-usaha ini sebagai balasannya. Kami melihat Turki mendapat pertolongan Allah pada 15 Juli 2016."
Turki menggagalkan kudeta 15 Juli 2016 yang didalangi oleh Organisasi Teroris Fetullah (FETO) dan pemimpinnya Fetullah Gulen.
Kudeta gagal tersebut menewaskan 250 orang dan 2.200 lainnya terluka.
Langkah AS memindahkan Duta Besar dan stafnya ke Yerusalem datang setelah Menteri Luar Negeri Rex Tillerson menyetujui rencana keamanan terakhir untuk relokasi tersebut pada Kamis malam, meskipun Wakil Presiden Mike Pence mengatakan hal tersebut akan terjadi pada akhir 2019.
Kompleks kedutaan yang saat ini berada di Tel Aviv masih akan berfungsi sebagai konsulat AS dan akan menjadi cabang kedutaan di Yerusalem.
Menurut laporan media AS, Duta Besar AS untuk Israel telah menerima banyak tawaran dari donatur Yahudi yang bersedia mendanai bangunan baru untuk proyek tersebut.
Presiden Trump juga mempertimbangkan untuk menerima sumbangan dari pemilik kasino dan pebisnis terkenal Sheldon Adelson, yang berasal dari keluarga Yahudi, untuk membantu proyek tersebut.
Selain itu, menurut laporan tersebut, alasan di balik sumbangan untuk kedutaan tersebut adalah agar Presiden Trump tidak mengubah keputusan tersebut di masa mendatang.
Yerusalem tetap menjadi jantung konflik Israel-Palestina, di mana orang-orang Palestina berharap Yerusalem Timur - yang kini diduduki Israel - dapat berfungsi sebagai ibu kota negara Palestina.