Rhany Chairunissa Rufinaldo
11 Februari 2019•Update: 12 Februari 2019
Hasan Esen
CARACAS
Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Minggu menggelar latihan militer yang disebutnya paling penting dalam sejarah di tengah krisis politik yang sedang berlangsung di negaranya.
Latihan militer terbesar yang diadakan dalam sejarah 200 tahun negara itu, akan berlanjut hingga 15 Februari.
"Kita harus bersiap untuk membela kedaulatan Venezuela, integritas teritorial dan kemerdekaan," kata Maduro, selama pidatonya kepada tentara di Pangkalan Militer Guaicaipuro di negara bagian Miranda, Venezuela.
"Inilah pasukan bersenjata dan inilah orang-orang yang akan membela kehormatan, martabat dan nilai-nilai sebuah negara yang telah berjuang selama lebih dari 200 tahun untuk masa depannya," tambahnya.
Dia juga melontarkan kecaman terhadap Presiden AS Donald Trump yang secara agresif mendukung pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido dan menyerukan perubahan rezim.
"Keluar Donald Trump, keluar ancamannya!," tegas Maduro.
Dukungan agresif Washington untuk Guaido sebagai pejabat presiden kemungkinan bisa meningkat menjadi sebuah invasi militer langsung.
Permainan perang itu diyakini dilakukan untuk bersiap mengusir potensi invasi apa pun dari AS dan sekutunya.
Upacara militer dihadiri oleh komandan pasukan darat dan udara, serta Menteri Pertahanan Vladimir Padrino Lopez.
Latihan militer dimulai pada peringatan 200 tahun Pidato Simon Bolivar Angostura, yang memimpin gerakan kemerdekaan melawan kekuasaan Spanyol di Amerika Latin.
Venezuela telah diguncang oleh protes sejak 10 Januari ketika Presiden Nicolas Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua setelah pemungutan suara yang diboikot oleh oposisi.
Ketegangan meningkat ketika pemimpin oposisi Guaido menyatakan dirinya bertindak sebagai presiden pada 23 Januari, suatu langkah yang didukung oleh AS dan banyak negara Eropa dan Amerika Latin.
Sementara itu, Rusia, Turki, China, Iran, Bolivia, dan Meksiko menyatakan dukungan untuk Maduro.