Maria Elisa Hospita
31 Agustus 2018•Update: 01 September 2018
Alex Jensen
SEOUL
Media pemerintah Korea Utara melancarkan serangan verbal ke Amerika Serikat, setelah Washington memperpanjang larangan perjalanan warga negaranya ke Korea Utara hingga tahun depan.
"AS telah menunjukkan sikap permusuhan di tengah-tengah proses dialog," kata situs propaganda Korut Uriminzokkiri.
Pernyataan itu muncul setelah AS dilaporkan mengerahkan pasukan untuk latihan militer rahasia yang menargetkan Korea Utara.
Situs itu memperingatkan bahwa Washington harus bertanggung jawab jika ketegangan di semenanjung meningkat lagi seperti tahun lalu.
Meskipun Menteri Pertahanan AS James Mattis baru-baru ini menyiratkan bahwa latihan militer gabungan AS-Korea Selatan dapat segera dilanjutkan, Gedung Putih pada Rabu mengklarifikasi bahwa "saat ini bukan waktu yang tepat untuk menghabiskan uang dalam jumlah besar", khususnya untuk latihan seperti itu.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana latihan perang dengan Selatan setelah tatap muka pertamanya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un pada Juni.
Dalam pertemuan itu, keduanya merilis pernyataan bersama untuk mewujudkan proses perdamaian, sementara Kim berkomitmen "untuk mewujudkan denuklirisasi total".
Namun proses denuklirisasi itu kembali menemui titik buntu, karena rencana kunjungan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo ke Korea Utara pekan ini dibatalkan oleh Trump.
Menurut Uriminzokkiri, AS harus "mengerjakan bagiannya untuk mengimplementasikan pernyataan bersama Korea Utara-AS yang bersejarah".
Pada Kamis, Duta Besar Korea Selatan di Washington Cho Yoon-je menegaskan bahwa Korea Utara telah bertekad untuk mempertahankan momentum dialog.