Merve Berker
29 Juni 2026•Update: 29 Juni 2026
Ketua Parlemen Turkiye Numan Kurtulmus menegaskan bahwa penghentian tindakan agresi Israel merupakan kunci untuk mewujudkan perdamaian dunia, seraya menekankan bahwa stabilitas global tidak dapat tercapai tanpa perdamaian di Timur Tengah dan bagi rakyat Palestina.
Berbicara pada pembukaan KTT Parlemen NATO di Istanbul, Senin, Kurtulmus mengatakan tidak akan ada perdamaian yang langgeng di dunia tanpa perdamaian di Timur Tengah, dan tidak akan ada perdamaian di Timur Tengah tanpa perdamaian bagi rakyat Palestina.
"Berakhirnya tindakan agresi pemerintah Israel tidak hanya akan memungkinkan rakyat Palestina hidup damai dan tenteram, tetapi juga berarti mengamankan perdamaian dunia," ujarnya.
Kurtulmus kembali menegaskan dukungan Turkiye terhadap pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Ia menambahkan bahwa tidak ada jalan lain selain solusi dua negara.
Ia juga menyerukan kepada negara-negara anggota NATO dan masyarakat internasional agar mendukung berbagai inisiatif perdamaian yang sedang berlangsung di kawasan.
Menyinggung nota kesepahaman terbaru antara Iran dan Amerika Serikat, Kurtulmus mengatakan perundingan yang dimulai di Swiss memberikan harapan bagi terciptanya "perdamaian yang adil dan berkelanjutan."
"Kami berharap proses tersebut pada akhirnya menghasilkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan, bukan sekadar gencatan senjata, melainkan penyelesaian damai yang sesungguhnya," katanya.
Kurtulmus juga menyoroti berbagai upaya mediasi yang sebelumnya dilakukan Ankara, termasuk memfasilitasi Inisiatif Gandum Laut Hitam serta beberapa kali pertukaran tahanan antara Ukraina dan Rusia.
Dalam bidang kerja sama pertahanan, ia mengatakan Turkiye telah mencatat kemajuan signifikan dalam industri pertahanannya dan siap berbagi kemampuan tersebut dengan negara-negara sekutu.
Kurtulmus juga menegaskan kembali komitmen Turkiye terhadap target NATO untuk mengalokasikan 5 persen produk domestik bruto (PDB) bagi belanja pertahanan. Ia sekaligus mengkritik embargo industri pertahanan yang diberlakukan sejumlah sekutu sebagai langkah "sepihak, tidak bermakna, dan bertentangan dengan semangat aliansi."
Ia menambahkan dunia dan NATO saat ini berada di "persimpangan bersejarah" serta menyerukan kerja sama guna mewujudkan "tatanan dunia baru yang adil dan setara."