Safiye Karabacak
31 Januari 2018•Update: 31 Januari 2018
Safiye Karabacak
BAGHDAD
Perdana Menteri Irak Haider al-Ibadi menyatakan bahwa pemerintah telah memulai misinya dalam pemberantasan korupsi di Irak.
"Operasi pemberantasan korupsi di Irak telah digelar. Hal ini tak akan berakhir dalam beberapa hari. Namun bisa kami katakan bahwa ada kerja sama yang besar antara Irak dengan pihak Kepolisian Internasional (Interpol) untuk penuntutan para tersangka,” ungkap Ibadi usai memimpin pertemuan kabinet menteri di Baghdad, Rabu.
Ibadi memerintahkan kepada dewan menteri untuk menyiapkan dokumen-dokumen terkait pemberantasan korupsi dan melaksanakan operasi tersebut pada waktu yang telah ditentukan.
Terkait serangan udara Amerika Serikat di wilayah Anbar, dia mengatakan penyelidikan terhadap kejadian tersebut sedang berlangsung.
Ibadi mengatakan, di mana pun berada, pihak keamanan dan intelijen akan terus berjuang melawan terorisme.
"Pasukan Irak akan terus mengendalikan jalur perbatasan Suriah," ujar dia.
Pada 27 Januari, AS melancarkan serangan udara terhadap anggota organisasi teroris Daesh di provinsi Anbar di bagian barat Irak.
Dilaporkan tujuh orang tewas, termasuk pasukan keamanan dan 11 orang terluka.
Mantan Menteri Perdagangan Abdullahlah al-Sudani, satu dari empat menteri yang dituduh melakukan korupsi di Irak, telah diserahkan ke Baghdad oleh polisi Interpol di Lebanon pada tanggal 25 Januari.
Mantan Menteri Energi Jasim Mohammad al-Samrai, Mantan Menteri Pertahanan Hazim Shalan, mantan Menteri Transportasi Luay al-Urs juga dituduh melakukan korupsi.
Menurut laporan Lembaga Transparansi International, Irak termasuk di antara negara-negara yang paling korup.