Jeffrey Moyo
16 November 2021•Update: 18 November 2021
HARARE, Zimbabwe
Menjual manisan di kampus universitas telah menjadi rutinitas sehari-hari bagi Francis Gwenhure, 22, saat ia berjuang untuk menambah penghasilan ibunya.
Sang ibu, Tracy Gwenhure, 45, adalah orang tua tunggal dan bekerja sebagai penjual pernak-pernik di ibu kota Zimbabwe, Harare.
Francis, yang sedang belajar sejarah di universitas setempat, membantu dengan menjajakan beberapa barang dagangan ibunya di kampus meskipun itu dilarang.
Francis harus menyelundupkan barang-barang jualan di tasnya ke universitas setiap kali dia pergi kuliah.
Dia sekarang telah menjadi fitur umum di kampus bersama banyak siswa lain yang telah didorong oleh kemiskinan menjadi seorang pedagang.
“Saya harus membantu menghidupi ibu saya yang sudah menjadi pedagang sejak saya lahir. Jika saya melakukan ini sambil belajar, setidaknya di akhir hari belajar saya mendapatkan uang untuk dibawa pulang ke ibu saya, ”kata Gwenhure kepada Anadolu Agency.
Kemiskinan yang dihadapi oleh banyak mahasiswa di Zimbabwe seperti Gwenhure meningkat pada saat dunia memperingati Hari Siswa Internasional, yang dirayakan pada 17 November setiap tahun.
Secara historis, hari itu adalah peringatan internasional aktivisme mahasiswa, memperingati ulang tahun 1939 Nazi menyerbu Universitas Praha setelah demonstrasi menentang pembunuhan Jan Oletal, seorang mahasiswa, yang ditembak pada rapat umum Hari Kemerdekaan Cekoslowakia dalam perlawanan terhadap Nazisme .
Naiknya inflasi
Gwenhure tinggal di gubuk di kamp liar di luar Harare bersama ibunya.
Namun terlepas dari kondisinya, ia tetap berharap pendidikan akan mengubah jalan hidupnya.
Untuk bisa tiba ke lokasi dimana universitasnya berada adalah masalah lain yang dia hadapi karena sistem transportasi umum di bawah standar.
“Biasanya ibu saya tidak punya uang karena kami menghabiskan sedikit uang dari berjualan untuk membeli makanan dan kebutuhan pokok lainnya di rumah. Kalau tidak ada uang, kadang saya terpaksa bolos kuliah karena saya tidak punya ongkos naik bus umum ke kampus,” kata Gwenhure.
Kesengsaraan semakin parah dengan meningkatnya inflasi di tengah pandemi yang telah membuat biaya kuliah meningkat tinggi.
Para pemimpin mahasiswa menyalahkan kepemimpinan politik Zimbabwe atas keadaan tersebut.
Tapiwanashe Chiriga, sekretaris jenderal Persatuan Pelajar Nasional Zimbabwe (ZINASU), mengatakan: “Ekonomi negara kami telah rusak karena kelalaian, korupsi, dan ketidakmampuan. Dengan efek Covid-19 yang berdampak luar biasa, siswa telah menghadapi hal yang lebih keras. Membayar biaya kuliah yang semakin naik sementara tidak kuliah selama satu semester penuh, rasanya seperti perampokan,”
Menurut kelompok mahasiswa, tahun ini lebih dari 35 persen mahasiswa terpaksa menunda studi karena gagal mendaftar tepat waktu akibat tidak memiliki biaya.
“Ini adalah masa yang sulit dan akses ke pendidikan yang terjangkau menjadi hak istimewa bagi orang kaya dan segelintir orang,” kata Chiriga.
Kesehatan mental
Psikolog seperti Melvin Chawasarira yang berbasis di Harare menyalahkan kemiskinan atas meningkatnya kasus depresi di kalangan mahasiswa.
“Gejala depresi dan kecemasan sekarang marak di kalangan mahasiswa di sini karena mereka kuliah membawa banyak kekhawatiran tentang di mana mereka akan mendapatkan makanan berikutnya, sewa akomodasi, dan banyak hal lainnya dan ini berdampak negatif pada kualitas hidup. dan pencapaian akademis,” kata Chawasarira kepada Anadolu Agency.
Namun pemerintah Zimbabwe selama bertahun-tahun bersikeras untuk menjaga kesejahteraan mahasiswa.
Tiga tahun lalu, pemerintah menandatangani 16 Nota Kesepahaman dengan pihak swasta untuk pembangunan infrastruktur yang mencakup akomodasi mahasiswa di perguruan tinggi dan pendidikan tinggi.
“Pemerintah telah menandatangani 16 MoU untuk pembangunan infrastruktur di perguruan tinggi dan perguruan tinggi di Zimbabwe,” kata Menteri Pendidikan Tinggi Amon Murwira pada 2019.
Pada 2019, pemerintah berkomitmen untuk mengucurkan pinjaman untuk mendukung pelajar di perguruan tinggi dan universitas, tetapi di tengah meningkatnya korupsi, mahasiswa mengklaim bahwa mereka tidak bisa mengakses bantuan tersebut.
“Tidak mudah mendapatkan pinjaman. Anda harus punya kenalan orang yang yang berpengaruh,” kata Gwenhure.