Muhammad Abdullah Azzam
10 November 2020•Update: 10 November 2020
MOSUL, Irak
Warga Ezidi Irak menggelar aksi unjuk rasa pada Senin untuk menentang keberadaan kelompok teror PKK dan kelompok ilegal lainnya di distrik Sinjar, Mosul.
Aktivis Ezidi membawa spanduk yang menentang PKK, yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS, dan Uni Eropa.
"Menculik anak-anak dan memaksa mereka bergabung di antara militan adalah pelanggaran hukum internasional," tulis dari beberapa spanduk yang dibawa pengunjuk rasa.
Di antara pengunjuk rasa adalah komandan Pasukan Pertahanan Ezidi Haydar Shesho.
"Kami ingin menunjukkan kepada kedua belah pihak bahwa orang-orang Shengal tidak menentang perjanjian yang dibahas. Orang-orang kami menyetujui perjanjian tersebut," sebut Shesho.
Dia mengacu pada kesepakatan baru-baru ini antara Baghdad dan Pemerintah Daerah Kurdi (KRG) tentang status distrik Sinjar.
Kesepakatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kewenangan federal Irak di Sinjar berdasarkan konstitusi dalam hal pemerintahan dan keamanan, menurut Perdana Menteri Irak, dan mengakhiri kewenangan kelompok penyusup di Sinjar, yaitu kelompok teroris PKK.
"Pemerintah Baghdad harus mendukung perjanjian Sinjar dan mempraktikkannya. Tampaknya beberapa pihak tidak menerima perjanjian itu. Itu sebabnya pemerintah pusat perlu serius melaksanakan perjanjian tersebut," imbuh Shesho.
Kelompok teror Daesh, juga dikenal sebagai ISIS, menyerang distrik Sinjar pada 3 Agustus 2014, dan membunuh atau menahan ribuan orang termasuk anak-anak dan wanita.
Sekitar 450.000 Ezidi melarikan diri dari Sinjar setelah kelompok Daesh/ISIS menguasai wilayah tersebut.
Dengan dalih menyelamatkan Sinjar dari ISIS, PKK telah menduduki wilayah tersebut sejak 2014.
Komunitas Ezidi di distrik tersebut telah menggelar berbagai protes terhadap PKK, menuntut pengembalian anak-anak mereka yang diculik oleh kelompok teror, dan mendesak pemerintah Irak untuk campur tangan.