Gulsen Topcu
08 Mei 2018•Update: 09 Mei 2018
Gulsen Topcu
BEIRUT
Kekerasan terjadi kemarin di ibu kota Lebanon setelah pemilihan umum pertama negara tersebut sejak sembilan tahun lalu, lapor National News Agency (NNA), kantor berita resmi milik Lebanon.
Di distrik Saint-George, Beirut, sekelompok pria bersenjata yang mengendarai sepeda motor menutupi patung mantan Perdana Menteri Lebanon Rafiq Hariri dengan bendera partai politik, tulis NNA.
Kelompok ini kemudian menuju ke distrik Aicha Bakkar di sebelah barat ibu kota dan menembakkan senjata api.
Tidak ada korban yang jatuh dalam insiden ini, menurut NNA.
Menyusul kejadian ini, Perdana Menteri Saad Hariri meminta Kepala Staf Umum Jenderal Joseph Avn dan Direktur-Jenderal Pasukan Keamanan Dalam Negeri Mayjen Imad Osman untuk mencegah tindak kekerasan ini menyebar lebih jauh dan melakukan tindakan pencegahan.
Pasukan angkatan bersenjata kemudian mendirikan pos pemeriksaan keamanan dan mulai berpatroli untuk menjaga keamanan.
Ketua Parlemen dan pemimpin Gerakan Amal (Aman Movement) Nabih Berri mengutuk kerusuhan di jalan-jalan Beirut tersebut.
"Kami mengutuk insiden-insiden mengerikan yang dilakukan pendukung Hezbullah dan pendukung Gerakan Amal di ibu kota," katanya.
Pemilihan umum
Menurut hasil poling sementara pada Minggu, koalisi antara Hezbolaah dan Gerakan Amal mendapatkan kursi terbanyak di parlemen -- 34 -- dari 128 kursi yang tersedia.
Sementara itu, Gerakan Kebebasan Patriot (Free Patriotic Movement) milik Presiden Michel Aoun diharapkan menduduki peringkat kedua dengan setidaknya 26 perolehan kursi.
Hasil penghitungan awal juga menunjukkan perolehan kursi Lebanese Force (Phalange) milik Samir Geagea, yang dikatakan mengamankan setidaknya 15 kursi.
Dalam perkembangan yang tak terduga, banyak pemilih yang memutuskan tak memberi suara kepada partai politik mainstream, dengan tujuh kandidat -- termasuk lima wanita -- berhasil mendapatkan kursi.
Namun demikian, jajak pendapat parlemen hari Minggu menunjukkan jumlah pemilih yang sangat rendah, yakni hanya 49,2 persen.
Polling juga melihat 917 kandidat dari berbagai pihak bersaing untuk mendapatkan kursi parlemen, separuhnya disediakan untuk umat Islam, sementara setengah lainnya disediakan untuk orang Kristen.
Pemungutan suara kali ini dilakukan di bawah sistem proporsional baru yang membagi negara tersebut menjadi 15 konstituen pemilihan yang terpisah.
Hasil akhir diharapkan akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang, menurut media lokal.