11 Juli 2017•Update: 12 Juli 2017
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Mantan duta besar Amerika Serikat (AS) untuk Turki baru-baru ini berkata bahwa jaringan yang terkait dengan Fetullah Gulen adalah “sebaik-baiknya hanya sekadar buram, dan seburuk-buruknya adalah pihak di belakang usaha kudeta (15 Juli, 2016) lalu”.
James Jeffrey, yang juga merupakan mantan wakil penasihat keamanan nasional di bawah administrasi George W. Bush, menjadi pembicara dalam konferensi yang digelar oleh para pemikir dari SETA di Washington DC, Senin.
Diplomat senior ini juga memakai kata “memalukan” saat menyebut kehadiran Gulen di tanah AS.
Gulen diinginkan oleh pemerintahan Turki atas berbagai tuduhan, yang mencapai puncaknya setelah kejadian percobaan kudeta pada bulan Juli tahun lalu, yang menewaskan 250 nyawa.
Pemerintah Turki berkata bahwa kudeta tersebut direncakan oleh Fetullah Terrorist Organization (FETO) yang dipimpin oleh Gulen, yang saat ini tinggal di AS.
Pihak berwajib Turki menuduh jaringan Gullen berusaha menggulingkan pemerintahan resmi setelah selama bertahun-tahun memasuki berbagai institusi resmi pemerintahan, seperti militer, kepolisian, dan pengadilan.
Ketika menjawab pertanyaan tentang apakah AS bakal mengesktradisi Gulen, Jeffrey berkata kepada peserta konferensi bahwa Ankara sudah meminta proses ekstradisi, namun AS belum memberikan tanggapan yang masuk akal bagi Turki.
“Fakta bahwa saat ini Gulen bisa berada di Amerika sangatlah memalukan,” tambah Jeffrey.
Dirinya memprediksi proses legal untuk mengekstradisi Gulen dari AS akan makan waktu cukup lama, mengingat sistem pengadilan di AS cukup berbelit.
Jeffrey juga menyayangkan mantan Presiden Barack Obama yang tak segera mengambil keputusan dan menunggu terlalu lama sebelum melakukan sesuatu; sampai akhirnya AS terlambat memberikan pernyataan mengutuk usaha kudeta di Turki.
“Ini tentu sangat disayangkan, karena pada situasi seperti itu, Anda dituntut untuk melakukan aksi dengan cepat dan kami telah gagal melakukannya,” tambah Jeffrey.