Maria Elisa Hospita
26 Juni 2020•Update: 26 Juni 2020
Ayhan Şimşek
BERLIN
Jerman, Prancis, dan Italia telah meminta pihak-pihak yang bertikai di Libya untuk menghentikan pertikaian "sesegera mungkin dan tanpa syarat".
Ketiga negara itu juga mendorong perundingan untuk gencatan senjata yang berkelanjutan dan kredibel.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Kamis malam, tiga negara anggota UE itu menyuarakan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan di Libya.
Pernyataan itu dirilis menyusul ancaman dari Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, pendukung utama panglima perang Khalifa Haftar, untuk melakukan intervensi militer di Libya.
Pemerintah Libya yang diakui PBB baru-baru ini berhasil mengambil alih kota-kota strategis yang diduduki milisi Haftar.
Mereka pun mengecam komentar al-Sisi yang dianggap sebagai "deklarasi perang."
Intervensi luar
Lewat pernyataan gabungan, Jerman, Prancis, dan Italia meminta semua aktor asing untuk mengakhiri semua campur tangan dan sepenuhnya menghormati embargo senjata Dewan Keamanan PBB.
Meskipun ada embargo, pasukan Haftar terus menerima pasokan besar peralatan militer dari Uni Emirat Arab, Mesir, dan Rusia.
Awal tahun ini, Haftar menolak menandatangani perjanjian gencatan senjata di Konferensi Berlin, meskipun ada dukungan kuat dari komunitas internasional dan aktor regional untuk negosiasi yang dipimpin PBB.
Jerman, Prancis, dan Italia telah meminta pihak Libya untuk melanjutkan perundingan yang dipimpin PBB melalui pertemuan "5 + 5 komite militer" yang sejak lama tertunda.
Libya telah dirundung perang saudara sejak Muammar Khaddafi lengser dan wafat pada 2011.
Pemerintah Libya kemudian didirikan pada 2015 di bawah perjanjian yang dipimpin oleh PBB, tetapi proses politik tak kunjung tercapai karena serangan pasukan Haftar.