Muhammad Abdullah Azzam
14 September 2019•Update: 16 September 2019
Esat Fırat
YERUSALEM
Setidaknya delapan orang terluka akibat tembakan peluru plastik saat pasukan Israel melakukan intervensi terhadap warga Palestina yang melakukan unjuk rasa di lokasi permukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki.
Sejumlah warga Palestina berkumpul usai salat Jumat di berbagai titik di Tepi Barat yang diduduki untuk memprotes permukiman ilegal Yahudi Israel dan Tembok Pemisahan.
Tentara Israel melakukan intervensi dengan menembakkan peluru plastik dan gas air mata ke arah demonstran.
Warga Palestina pun merespons upaya intervensi tersebut dengan melemparkan batu ke arah tentara Israel.
Menurut laporan dari Bulan Sabit Merah Palestina, delapan demonstran Palestina terluka akibat peluru plastik dan banyak lainnya terdampak gas air mata yang ditembakkan oleh tentara Israel di desa Kafr Malik, kota Nablus, utara Tepi Barat.
Setelah aksi Intifada Aqsa (Intifada ke-2) yang meletus di Palestina pada tahun 2000, pemerintah Israel mulai membangun Tembok Pemisahan antara Tepi Barat dan Israel pada tahun 2002 karena alasan "keamanan".
Hampir tiga juta orang Palestina di Tepi Barat tak dapat menyeberang ke Yerusalem Timur dan Israel yang diduduki karena Tembok Pemisahan itu.
Tentara Israel kerap menembakkan peluru tajam dan plastik serta gas air mata terhadap pada warga yang menggelar demonstrasi setiap hari Jumat untuk menentang keberadaan tembok pemisah dan pembangunan permukiman ilegal Yahudi di wilayah Palestina.
Israel menduduki Yerusalem Timur - di mana al-Aqsa berada - selama Perang Arab-Israel 1967, sebelum akhirnya menguasai seluruh wilayah kota, sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.
Pada akhir tahun 2000, kunjungan politikus kontroversial Israel Ariel Sharonke ke al-Aqsa memicu pemberontakan pendudukan Israel selama puluhan tahun, yang telah menewaskan ribuan orang Palestina.