Osama al-Ghassani
01 Juli 2018•Update: 02 Juli 2018
Osama al-Ghassani
YERUSALEM
Israel menyatakan tidak mengizinkan pasukan lain kecuali pasukan rezim Suriah untuk dikerahkan di sepanjang perbatasan mereka dengan Suriah yang dilanda perang. Hal itu diberitakan oleh harian Israel Haaretz, pada Minggu.
Menurut surat kabar itu, Israel menyampaikan pesan melalui Amerika Serikat dan Rusia bahwa mereka kemungkinan hanya akan mengizinkan pasukan rezim Bashar al-Assad untuk memasuki dekat daerah perbatasan utara Israel, dan tidak akan menoleransi penyebaran pasukan Iran dan pejuang kelompok Hizbullah Lebanon di wilayah lain.
Pesan-pesan itu disampaikan dalam pertemuan yang digelar baru-baru ini antara Kepala Staf Israel Letnan Jenderal Gadi Eisenkot dan ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Joseph Dunford di Washington.
Menurut harian itu, Israel mengatakan mereka mengharapkan perjanjian gencatan senjata 1974 dengan Suriah akan ditegakkan dan zona demiliterisasi di sepanjang perbatasan akan tetap bebas dari kekuatan militer dan persenjataan berat.
Pada hari Jumat, Dewan Keamanan PBB memperbarui selama enam bulan misinya untuk mengamati gencatan senjata di Dataran Tinggi Golan, menyerukan kelompok-kelompok bersenjata untuk meninggalkan daerah yang memisahkan pasukan Suriah dan Israel.
Dataran Tinggi Golan Suriah diduduki oleh Israel selama perang Timur Tengah 1967.
Peringatan Israel datang ketika pasukan rezim Suriah dan sekutu milisi didorong maju dengan serangan militer besar di provinsi Daraa yang dikuasai oposisi di barat daya Suriah.
Setidaknya 97 warga sipil dilaporkan tewas dan ribuan orang mengungsi sejak serangan rezim dimulai dua minggu lalu.
Setelah pembicaraan damai yang diadakan tahun lalu di ibukota Kazakhstan, Astana, Daraa ditetapkan sebagai "zona de-eskalasi" di mana tindakan agresi secara tegas dilarang.
Suriah masuk ke dalam sebuah konflik dahsyat pada 2011 ketika rezim Assad menindak keras para demonstran dengan keganasan yang tidak terduga.