Anees Suheil Barghouti
03 Mei 2018•Update: 03 Mei 2018
Anees Suheil Barghouti
YERUSALEM
Pemerintah Amerika Serikat meyakini seluruh negara di kawasan Timur Tengah harus mengakui negara Israel sebelum meminta untuk menghentikan persenjataan nuklirnya.
"Administrasi Trump telah menyatakan sikap bahwa Israel tidak perlu menghentikan program nuklirnya sebelum semua negara di Timur Tengah mengakui hak eksistensi Israel," tulis surat kabar Israel Haaretz pada Senin dengan mengutip seorang sumber.
Pertemuan persiapan saat ini sedang berlangsung di Jenewa untuk konferensi non-proliferasi nuklir yang akan digelar pada 2020.
Pada 2010, anggota perjanjian mengadopsi sebuah resolusi - meskipun ditentang keras oleh Israel - mendesak konferensi internasional yang bertujuan untuk menjadikan Timur Tengah sebagai zona bebas nuklir.
“Israel bukan anggota perjanjian [non-proliferasi nuklir], namun Mesir telah secara aktif mengupayakan untuk mengadopsi resolusi ini di berbagai forum internasional," tambah Haaretz.
Meskipun Finlandia berlaku sebagai tuan rumah sekaligus penyelenggara acara, namun mediator Finlandia tidak berhasil menghimpun konsensus bersama di antara peserta.
Tahun 2015, AS menolak usulan Mesir untuk memaksakan konferensi semacam itu pada Israel, dengan pemerintahan Obama menyatakan bahwa perlucutan senjata hanya dapat terlaksana melalui dialog dengan Israel.
Menurut Haaretz, Israel meyakini bahwa masalah senjata nuklir "tidak dapat dipisahkan dari masalah keamanan atau situasi perang antara Israel dan beberapa negara lain".
Institut Sains dan Keamanan Internasional (ISIS) yang berbasis di Washington menyebutkan, Israel telah memproduksi sebanyak 115 hulu ledak nuklir sejak mulai memproduksinya pada 1963.