Erdoğan Çağatay Zontur
25 Februari 2019•Update: 25 Februari 2019
Erdoğan Çağatay Zontur
ANKARA
Zona aman di perbatasan Turki - Suriah harus berada di bawah kendali Turki, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu.
Dalam wawancara yang disiarkan televisi, Erdogan mengatakan Turki adalah negara pertama yang terkena dampak dari baku tembak.
"Saya akan melakukan tindakan pencegahan di negara tetangga (Suriah)," tambahnya.
Kata Erdogan, lingkungan yang damai dan stabil di provinsi Afrin, Jarabulus, dan al-Bab Suriah harus dipertahankan di sepanjang wilayah perbatasan.
"Penting bagi kita bahwa langkah AS menarik diri dari Suriah tidak mengarah pada hal yang bertentangan dengan kepentingan negara kita dan kesatuan politik dan integritas wilayah Suriah," kata Erdogan.
Erdogan menekankan, Turki tidak akan menerima jika kekosongan setelah penarikan pasukan AS di Suriah digantikan oleh kelompok-kelompok teroris.
Erdogan mengatakan Perjanjian Adana - ditandatangani antara Ankara dan Damaskus pada tahun 1998 - memungkinkan pasukan Turki untuk melakukan operasi di dalam wilayah Suriah di dekat perbatasan Turki.
Suriah baru mulai bangkit dari konflik yang menghancurkan negeri itu sejak krisis yang dimulai pada awal 2011. Saat itu rezim Bashar al-Assad menindak rakyat yang menuntut reformasi dengan berbagai aksi kekerasan yang kejam.
Desember lalu, Trump membuat pengumuman mengejutkan bahwa AS akan menarik semua pasukannya dari Suriah. Kata Trump, Daesh telah dikalahkan di negara itu.
Menyinggung hubungan Turki-Mesir, Presiden Erdogan mengatakan dia tidak akan pernah bertemu dengan orang seperti "itu", merujuk pada Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi.
"[Mohammed] Morsi terpilih sebagai presiden Mesir dengan 52 persen suara dalam pemilihan. Tetapi kemudian dia diambil alih. Sekarang, Morsi berada di penjara dengan teman-temannya," katanya. "Saya selalu katakan bahwa al-Sisi adalah pelaku kudeta."
Erdogan melanjutkan, 42 orang yang dieksekusi mati di bawah pemerintahan al-Sisi tidak dapat diterima.
Presiden Turki, AS bisa saling mengunjungi
Presiden Erdogan mengatakan dia bisa mengunjungi AS, atau Presiden Donald Trump dapat berkunjung ke Turki setelah pemilihan lokal 31 Maret.
Erdogan menambahkan bahwa ia memiliki "hubungan positif" dengan Presiden AS Donald Trump.
"AS belum lama menugaskan seorang duta besar untuk Ankara," kata Erdogan. "Sekarang, mereka menetapkan nama yang mereka anggap penting sebagai duta besar untuk Turki."
Berbicara tentang kunjungan Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar ke Washington, Erdogan mengatakan isu Suriah dan hubungan bilateral Turki - AS adalah fokus dari pertemuan tersebut.
Presiden Erdogan juga mengatakan keputusan Parlemen Eropa untuk menunda perundingan aksesi dengan Turki tidak berarti apa-apa bagi Ankara.