Muhammad Abdullah Azzam
12 Desember 2020•Update: 13 Desember 2020
Zafer Fatih Beyaz, Aylin Dal, Kemal Karadag
ANKARA
Sikap Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev tentang masalah Karabakh telah menjadi bumerang bagi rencana presiden Prancis, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat.
Berbicara kepada wartawan selama kunjungannya ke ibu kota Azerbaijan, Baku pada 9-10 Desember, Erdogan mengatakan Prancis mungkin saja akan mengakhiri hubungan Azerbaijan-Prancis dengan langkah-langkah yang telah diambil sejauh ini, terlepas dari berbagai kesepakatan dan sebagainya. Politisi ini kurang berpengalaman."
Presiden Turki menyinggung mosi yang disahkan oleh Majelis Nasional Prancis baru-baru ini yang meminta pemerintah Prancis untuk mengakui Nagorno-Karabakh - wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional - sebagai republik terpisah.
Erdogan mengatakan Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang saat ini menjadi presiden Kelompok OSCE Minsk, tidak memberikan kontribusi positif terhadap proses tersebut.
Mengenai kemenangan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh, Erdogan mengatakan itu membuka halaman baru dalam sejarah Kaukasus dan sejarah kawasan itu akan dibentuk ke arah yang baru.
Platform enam pihak dalam sengketa Karabakh yang sedang dikerjakan Turki akan menjadi inisiatif win-win solution bagi semua pihak, kata presiden Turki.
"Jika Armenia bergabung dalam proses ini dan mengambil langkah positif, maka babak baru dapat dibuka dalam hubungan Turki-Armenia," tambah dia.
Selama kunjungannya, Erdogan menghadiri parade kemenangan di Azadlig Square untuk merayakan keberhasilan militer Azerbaijan baru-baru ini dalam membebaskan Karabakh Atas dari hampir 30 tahun pendudukan Armenia.
Sanksi terhadap Turki
Selama konferensi pers, Erdogan juga mengkritik AS karena mengeluarkan undang-undang yang mencakup sanksi terhadap Turki atas pembelian sistem pertahanan udara Rusia pada 2017.
"Tindakan AS untuk membuat Turki menghadapi tindakan yang disebut CAATSA [Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi] adalah penghinaan terhadap mitra yang sangat penting di NATO," kata Erdogan.
Erdogan mengatakan Presiden AS Donald Trump dan pendahulunya Barack Obama selalu berbicara tentang keanggotaan Turki di NATO dengan bangga dan kedua presiden telah mengambil langkah-langkah positif selama pemerintahan masing-masing.
"Sekarang, Demokrat sedang berkuasa. Jadi, apa yang terjadi bahwa sanksi CAATSA akan dikenakan pada Turki sekarang?" tutur dia, menambahkan bahwa dirinya dan Presiden terpilih Joe Biden juga saling mengenal dengan baik.
Vaksin Covid-19
Menggarisbawahi bahwa Turki akan menerima 50 juta dosis vaksin virus korona dari China, Erdogan mengatakan 10 juta di antaranya akan diperoleh dalam pengiriman gelombang pertama dalam waktu dekat.
"Ketika kami mulai proses vaksinasi, saya akan divaksinasi," kata Erdogan, menghimbau kepada rakyat Turki untuk tidak khawatir tentang efek samping dari vaksin tersebut.
Dia menggarisbawahi bahwa perusahaan China yang memproduksi vaksin tersebut telah membuktikan kredibilitasnya di dunia.