Maria Elisa Hospita
25 September 2018•Update: 26 September 2018
Ovunc Kutlu
NEW YORK
China menuding pemerintah Amerika Serikat (AS) melakukan "perundungan perdagangan" sekaligus mulai memberlakukan tarif impor balasan sebesar USD60 miliar untuk produk-produk Amerika.
Setelah tarif tambahan USD200 miliar dari Washington ke Beijing berlaku per Senin tengah malam, kantor berita Xinhua menerbitkan sebuah artikel yang mengutip pernyataan tertulis Dewan Negara China.
Pernyataan itu menekankan bahwa hubungan perdagangan AS-China "menguntungkan satu sama lain", sehingga kebijakan Amerika hanya akan mengacaukan ekonomi China dan global.
"Kedua negara berada pada tahap perkembangan yang berbeda dan memiliki sistem ekonomi yang berbeda pula, oleh karena itu gesekan perdagangan adalah sesuatu yang lumrah," kata Dewan Negara China.
"Amerika telah menggaungkan unilateralisme, proteksionisme, dan hegemoni ekonomi, serta melemparkan tuduhan palsu terhadap banyak negara dan wilayah, terutama China, dan mengintimidasi negara lain melalui sanksi-sanksi ekonomi, dan mencoba memaksakan kepentingannya sendiri di China melalui tekanan ekstrem," papar pernyataan itu.
Pada Senin, lembaga pemeringkat global Moody juga memperingatkan bahwa tarif impor tambahan AS ke produk China berdampak buruk bagi berbagai sektor di kedua negara.
"Hubungan rantai stok domestik akan memperbesar dampak tarif tambahan 10 persen AS pada perekonomian China dan sektor industri tertentu," kata Elena Duggar, Ketua Dewan Makroekonomi Moody, dalam sebuah laporan.