Dunia

China: AS gunakan kebebasan pers untuk lakukan ‘standar ganda'

AS hanya menggunakan kebebasan pers sebagai kedok menutup agenda sebenarnya untuk menekan China, kata jubir Kementerian Luar Negeri China

Riyaz Khaliq Khaliq   | 31.07.2021
China: AS gunakan kebebasan pers untuk lakukan ‘standar ganda' Gedung Putih, Amerika Serikat (Foto file - Anadolu Agency)

Ankara

ANKARA 

China pada Jumat menuduh Amerika Serikat (AS) "bermain standar ganda" atas nama kebebasan pers.

"AS hanya menggunakan kebebasan pers sebagai kedok menutup agenda sebenarnya untuk menekan China. AS hanya mencoba untuk membenarkan standar ganda, hegemoni, dan intimidasi dengan dalih yang kedengarannya tinggi," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian dalam konferensi pers di Beijing.

"Berkenaan dengan AS, ini bukan hanya masalah 'dapat berbuat lebih baik' pada jurnalis dan kebebasan pers, tetapi kebutuhan mendesak untuk memperbaiki kesalahan dan mencari perbaikan.”

“AS harus merenungkan dirinya sendiri dan menghentikan serangan nakal terhadap China," kata pernyataan kemlu China mengutip Zhao.

Pernyataan dari Beijing muncul setelah Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan di Twitter, "AS sangat prihatin dengan meningkatnya tren pengawasan, pelecehan, dan intimidasi terhadap jurnalis asing di China."

"AS tidak boleh melupakan fakta-fakta berikut: sejak 2018, AS telah menolak visa untuk lebih dari 20 jurnalis Tiongkok tanpa alasan. AS telah menetapkan beberapa kantor media Tiongkok di AS sebagai misi asing dan membatasi jumlah staf mereka, mengusir masuk semua kecuali 60 jurnalis Tiongkok.”

“AS juga telah memberlakukan tindakan diskriminatif yang membatasi pemberian visa tinggal tiga bulan kepada semua jurnalis China," tutur Zhao.

Menanggapi permintaan penyelidikan baru tentang asal-usul virus korona, Zhao meminta AS untuk mempublikasikan data tentang kasus-kasus awal virus korona.

"AS telah sibuk dengan politisasi, stigmatisasi, dan mengubah studi penelusuran asal menjadi alatnya. Itu telah membuat kebohongan, fitnah, dan pemaksaan praktik standarnya tanpa menghormati fakta, sains, dan keadilan," kata juru bicara itu.

Dia mengatakan AS harus mengundang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menyelidiki Fort Detrick dan lebih dari 200 laboratorium biologi di luar negeri.

"Komunitas internasional dan publik Amerika telah lama menyuarakan keprihatinan tentang kegiatan ilegal, tidak jelas, dan tidak aman di Fort Detrick. Lembaga penelitian, yang telah lama terlibat dalam studi dan modifikasi virus korona, mengalami kecelakaan keselamatan serius dan ditutup pada 2019," kata Zhao.

"AS harus mengundang pakar WHO untuk menyelidiki Universitas Carolina Utara. AS telah menuduh Institut Virologi Wuhan memperkenalkan Covid-19 dengan studi virus koronanya. Namun, sebenarnya AS adalah sponsor dan praktisi terbesar dari penelitian semacam itu,” ujar dia.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.