Dunia

Bangladesh pertimbangkan kembali rencana relokasi Rohingya

Pejabat tinggi mengatakan target utama adalah memulangkan Rohingya ke tanah air mereka di negara bagian Rakhine, Myanmar

Rhany Chaırunıssa Rufınaldo   | 17.02.2020
Bangladesh pertimbangkan kembali rencana relokasi Rohingya Ilustrasi: Pengungsi Rohingya. (Foto file - Anadolu Agency)

Dhaka

Md. Kamruzzaman

DHAKA, Bangladesh

Bangladesh mengumumkan bahwa pihaknya mempertimbangkan kemungkinan pembatalan rencana untuk memindahkan 100.000 pengungsi Rohingya ke sebuah pulau terpencil yang terletak di Teluk Benggala.

"Target utama kami adalah memulangkan Rohingya ke tanah asal mereka, negara bagian Myanmar, Rakhine," kata Menteri Luar Negeri Abul Kalam Abdul Momen kepada wartawan di Ibu Kota Dhaka setelah pertemuan dengan Duta Besar China untuk Bangladesh Li Jiming.

Momen memuji proyek-proyek pembangunan di pulau Bhasan Char dan berencana mengubahnya menjadi pusat bisnis dan Bangladesh baru.

Dia mengatakan warga Bangladesh kehilangan tempat tinggal karena erosi sungai atau masalah lain yang seharusnya diselesaikan di sana.

Bhasan Char, sebuah pulau terpencil yang pada 2018 direncanakan Bangladesh untuk menjadi permukiman 100.000 pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari penganiayaan di Myanmar.

Pulau tersebut dikhawatirkan kurang ideal dan Dhaka mengatakan akan mengadakan proyek untuk memperbaiki kondisi kehidupan di pulau itu.

"Kami semua sepakat untuk tidak mengirim Rohingya ke sana. Sekarang kami menempatkan rekomendasi kami kepada pemerintah untuk keputusan akhir tentang alternatif penggunaan proyek Bhasan Char," ujar Momen.

Komunitas yang teraniaya

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.

Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira'.

Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.

PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan.

Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın