Rhany Chairunissa Rufinaldo
10 April 2019•Update: 11 April 2019
Md. Kamruzzaman
DHAKA, Bangladesh
Bangladesh dan Myanmar sepakat untuk bekerja sama melawan penyelundupan, terorisme dan penyeberangan perbatasan ilegal, menurut pernyataan kepolisian Bangladesh, Rabu.
Border Guard Bangladesh (BGB) mengatakan setelah pertemuan lima hari antara pasukan keamanan Bangladesh dan Myanmar, kedua pihak sepakat untuk memprioritaskan perang melawan terorisme perbatasan, perdagangan narkoba - termasuk tablet kafein dan metamfetamin - dan baku tembak di daerah perbatasan.
Bangladesh dan Myanmar juga menyetujui pertukaran tahanan dan patroli perbatasan bersama selama pertemuan yang diadakan di ibu kota Myanmar, Nay Pyi Taw.
Kedua negara saat ini sedang melalui pergumulan diplomatik menyangkut pemulangan lebih dari satu juta pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp sementara di Bangladesh.
Dalam sebuah pertemuan di Washington pada 8 April, Menteri Luar Negeri Bangladesh Abdul Momen mendesak Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo untuk memberikan tekanan internasional yang kredibel pada Myanmar untuk repatriasi Rohingya dengan menjamin keselamatan, martabat dan hak kewarganegaraan penuh.
Dhaka juga menuduh pihak berwenang Myanmar gagal bekerja sama dalam upaya untuk memenuhi kesepakatan 2017 tentang repatriasi damai Rohingya.
Ketegangan juga meningkat setelah peta di salah satu situs web pemerintah Myanmar menunjukkan pulau itu sebagai bagian dari wilayahnya setidaknya dua kali dalam enam bulan terakhir.
Menanggapi protes keras Bangladesh, Myanmar mengoreksi peta dan mengklarifikasi bahwa tindakan itu dilakukan secara keliru.
Di tengah ketegangan itu, Bangladesh mengerahkan pasukan penjaga perbatasan bersenjata lengkap di pulau yang berada dekat perbatasan Myanmar.
"Baik secara sengaja atau tidak, Myanmar telah mengklaim pulau itu sebagai wilayah mereka, jadi itu adalah tugas kami untuk meningkatkan keamanan di sana," kata Asaduzzaman Khan Kamal, menteri dalam negeri Bangladesh, kepada Anadolu Agency.