Hayati Nupus
09 Juli 2019•Update: 10 Juli 2019
Umar Farooq
WASHINGTON
Washington tak akan pernah membiarkan Iran memperoleh senjata nuklir, ujar Wakil Presiden AS Mike Pence, ketika Teheran dilaporkan melanggar tingkat pengayaan uranium yang ditetapkan perjanjian internasional.
Berbicara kepada ratusan pendukung dalam Konferensi Christians United for Israel (CUFI), Pence mengatakan bahwa AS “akan terus menentang pengaruh jahat Iran” dan bahwa “Amerika tak akan pernah mengizinkan Iran memperoleh senjata nuklir.”
Sebelumnya, pada Senin, Teheran mulai memperkaya uranium menjadi 4,5 persen, lebih tinggi dari batas 3,67 persen yang ditetapkan dalam perjanjian nuklir, ujar pejabat Iran kepada Associated Press.
Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran mengatakan pengayaan 20 persen merupakan fase ketiga dalam mengurangi komitmennya atas kesepakatan 2015.
Namun Kepala Pengawal Revolusi Elit Iran, Mayjen Hossein Salami, mengatakan bahwa dunia tahu jika Iran tak sedang mengejar senjata nuklir.
Dia mengatakan, lewat kantor berita Tasnim, bahwa senjata nuklir tak memiliki tempat dalam Islam dan agama tak akan pernah sepakat dengan senjata pemusnah massal.
Di bawah kesepakatan nuklir Iran 2015, yang ditandatangani oleh Inggris, AS, Rusia, China, Prancis, Jerman dan Uni Eropa, Iran sepakat memusnahkan stok pengayaan uranium menengah dan memangkas stok pengayaan uranium rendah dengan batas 98 persen.
Pence juga memperingatkan Iran bahwa mereka tak boleh salah menafsirkan putusan pembatalan serangan setelah Teheran menurunkan pesawat tanpa awak Amerika bulan lalu.
Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak Trump mundur dari kesepakatan nuklir pada 2018, dan sejak itu AS memulai kampanye diplomatik dan ekonomi untuk menekan Iran agar kembali menegosiasikan perjanjian tersebut.
AS kembali memberlakukan sanksi ekspor minyak mentah Iran yang telah membuat perekonomian negara itu jatuh.
Saat berbicara dalam Konferensi CUFI, Sekretaris Negara AS Mike Pompeo juga menyerang Iran dan mengkritik kebebasan beragama negara tersebut.
“Persekusi terhadap umat beragama amat intens di Republik Islam Iran,” kata dia.
“Para Ayatollah dengan menyedihkan merampas hak asasi manusia paling mendasar bagi rakyat Iran. Hak untuk beribadah,” dia menambahkan.