Ali Abo Rezeg
ANKARA
Anak-anak Palestina di Tepi Barat yang diduduki, Jalur Gaza yang diblokade dan di kamp-kamp pengungsi di luar negeri masih menghadapi risiko kematian dan cedera secara tiba-tiba serta menghadapi momok penahanan sewenang-wenang di tangan otoritas Israel.
Gaza yang diblokade
Anak-anak yang hidup di bawah pengepungan Israel selama 12 tahun di Jalur Gaza menghadapi bahaya peluru-peluru Israel, terutama ketika mereka ambil bagian dalam demonstrasi reguler di sepanjang zona penyangga Gaza-Israel.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sekitar 50 anak-anak Palestina tewas dan lebih dari 3.000 lainnya terluka di dekat zona penyangga akibat tembakan tentara Israel sejak protes dimulai lebih dari satu tahun yang lalu.
Menurut penyelenggara aksi protes Ahmed Abu Riteima, seluruh keluarga Palestina - termasuk anak-anak kecil – kerap ikut serta dalam aksi damai.
"Itulah sebabnya kami telah melihat begitu banyak korban di kalangan perempuan dan anak-anak," kata Abu Riteima kepada Anadolu Agency.
"Israel bertanggung jawab penuh atas hal ini, karena Israel bersikeras menekan unjuk rasa dengan kekuatan mematikan," tambah dia.
"Anak-anak sering terbunuh di dekat zona penyangga, baik dengan tembakan tentara Israel secara acak atau karena mereka sengaja menjadi sasaran tentara Israel," ujar Abu Riteima.
Dia menambahkan bahwa anak-anak Gaza dibunuh dengan kejam, padahal mereka tidak menimbulkan ancaman nyata terhadap pasukan Israel yang ditempatkan di sisi lain zona penyangga.
Para demonstran menuntut hak para pengungsi untuk kembali ke tanah air mereka yang bersejarah, di mana mereka diusir pada 1948 untuk memberi jalan bagi negara baru Israel.
Mereka juga menuntut diakhirinya blokade 12 tahun Israel di Jalur Gaza, yang telah menghancurkan ekonomi daerah kantong pesisir dan merampas komoditas pokok dari dua juta penduduknya.
Tepi Barat yang diduduki
Di Tepi Barat yang diduduki Israel anak-anak Palestina berisiko menjadi sasaran penembak jitu, dipukuli oleh pemukim Yahudi, atau ditahan oleh tentara Israel.
Tahun lalu saja, Defense for Children International Palestine (DCIP), sebuah LSM hak asasi manusia yang berbasis di Jenewa, mendokumentasikan lebih dari 120 kasus di mana anak-anak Palestina di bawah umur ditahan secara sewenang-wenang oleh otoritas Israel.
Menurut DCIP, lebih dari separuh anak-anak yang ditangkap oleh otoritas Israel mengalami pelecehan, ancaman, penghinaan atau intimidasi verbal saat berada di dalam tahanan.
Dalam sebuah pernyataan baru-baru ini, LSM tersebut menambahkan bahwa sebagian besar anak-anak, lebih dari 75 persen, mengatakan mereka mengalami pelecehan fisik selama penahanan mereka.
Mereka yang ditahan juga sering ditempatkan di sel isolasi.
"Ketika berada dalam penahanan pra-persidangan, pihak berwenang Israel menempatkan 22 anak dalam isolasi selama 48 jam atau lebih. Dalam beberapa kasus, anak-anak dikurung dalam isolasi selama 30 hari," kata DCIP.
Kamp pengungsi
Sementara itu, anak-anak Palestina yang tinggal di kamp-kamp pengungsi di luar negeri, terutama di Lebanon atau Suriah yang dilanda perang, menghadapi serangkaian penderitaan, termasuk kemiskinan dan kondisi hidup yang buruk.
Mahmoud Hanafi, kepala Lembaga Palestina untuk Hak Asasi Manusia, sebuah LSM yang berbasis di Beirut, menggambarkan bahwa anak-anak Palestina di kamp-kamp pengungsi sengsara.
"Anak-anak pengungsi hidup dalam kondisi yang sangat buruk, yang sangat membatasi kemampuan mereka untuk membangun masa depan yang layak," kata Hanafi kepada Anadolu Agency.
Dia mengutip data dari badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) yang menempatkan tingkat kemiskinan orang-orang Palestina di kamp-kamp pengungsi Lebanon pada angka 73 persen dan tingkat pengangguran pada 56 persen.
Menurut Hanafi, anak-anak di kamp sering mengalami kerawanan pangan, dengan 38 persen menderita kerawanan pangan sedang dan 24 persen lainnya menderita kerawanan pangan akut.
Aktivis HAM itu juga mengungkapkan bahwa sebagian besar anak-anak pengungsi tidak memiliki akses yang memadai ke pendidikan, sebuah kondisi yang dia kaitkan dengan situasi sosial ekonomi mereka dan pembatasan hukum yang diterapkan pada pengungsi Palestina di Lebanon.
Menurut perkiraan, ada 300.000 warga Palestina, termasuk puluhan ribu anak-anak, saat ini tinggal di 12 kamp pengungsi yang tersebar di seluruh Lebanon.
news_share_descriptionsubscription_contact

