30 September 2017•Update: 03 Oktober 2017
Burak
Karacaoglu dan Halit Suleyman
IDLIB, Suriah
Serangan udara yang bertubi-tubi di provinsi Idlib di Suriah dalam
10 hari ini telah menyebabkan lebih dari 140 sipil tewas, demikian yang
dilaporkan koresponden Anadolu Agency.
Koresponden yang bekerja di wilayah tersebut mengatakan bahwa
setidaknya 40 warga sipil terbunuh sementara 70 lainnya luka-luka dalam
pemboman baru di desa Armanaz, Idlib, Jumat malam lalu.
Sejak 19 September, Idlib bagian selatan tetap menjadi target serangan udara yang hebat oleh pesawat tempur Rusia dan Suriah.
Rumah sakit dan sekolah juga menjadi target serangan.
Serangan tersebut juga menyasar beberapa kawasan yang masuk dalam zona de-eskalasi Idlib, yang baru-baru ini disepakati dan ditandatangani di Astana, Kazakhstan - antara Turki, Iran dan Rusia.
Pada hari Selasa, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengutuk
serangan udara mematikan tersebut.
"Kami tahu Rusia menargetkan elemen teroris di Idlib," katanya. "Tapi sejumlah warga sipil dan pemberontak moderat juga telah terbunuh karenanya."
Menteri menambahkan, "Serangan terhadap warga sipil merupakan pelanggaran gencatan senjata dan pelanggaran terhadap kesepakatan Astana."
Sementara itu, setidaknya 14 warga sipil juga tewas dalam serangan yang dilakukan siang hari di sebuah kota di Suriah yang berada dalam jaringan "zona de-eskalasi" - tempat-tempat yang dikatakan melarang serangan semacam itu – demikian kata seorang pejabat pertahanan sipil pro-oposisi Suriah .
Serangan tersebut - yang menjadi tanggung jawab rezim Suriah -
terjadi di Ghouta Timur, yang terletak di dalam zona de-eskalasi, lapor anggota
pasukan pertahanan sipil Helmet Suriah pada Anadolu Agency.
Selama lima tahun terakhir, Ghouta Timur dikepung oleh rezim Assad.
Selama perundingan damai yang diadakan di Astana, Kazakhstan pada
awal Mei lalu, Ghouta Timur ditunjuk sebagai bagian dari jaringan zona
de-eskalasi dimana tindakan agresi akan dilarang secara eksplisit.
Putaran pertama perundingan damai diadakan di ibukota Kazakhstan
pada 23-24 Januari, setelah sebuah gencatan senjata dipukul pada 30 Desember.
Pembicaraan Astana sedang diperantarai oleh Turki, yang mendukung
oposisi Suriah, bersama dengan Rusia dan Iran, yang keduanya mendukung rezim
Assad.
Suriah telah terkepung perang sipil yang kejam sejak awal 2011,
ketika rezim Assad menindak demonstrasi pro-demokrasi dengan kekejaman.
Sejak itu, ratusan ribu orang terbunuh dan lebih dari 10 juta
orang mengungsi, kata PBB