Megiza Asmail
JAKARTA
Mengemudikan kendaraan pengeruk sampah seberat 30 ton di atas air diakui Suratno, 63, bukan lagi menjadi hal yang sulit. Ratno yang bekerja sebagai pengeruk sampah untuk Dinas Kebersihan DKI Jakarta ini, sudah terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di dalam ruang kemudi tanpa didampingi teman berbincang, sambil menyusuri tepian waduk seluas 80 hektar.
Bagi warga yang bermain di Taman Waduk Pluit dan menyaksikan Ratno bersama teman-temannya bolak-balik dari pukul 08.00 sampai 15.00 mengemudikan alat berat bernama Dredger Pontoon, pekerjaannya mungkin terlihat sulit dan melelahkan.
Namun, bagi petugas yang dijuluki ‘pasukan oranye’ ini, hal-hal tersebut bukanlah bagian tersulit dari tugas mereka.
“Yang susah dari pekerjaan ini adalah sampah yang kecil-kecil. Sampah plastik itu sulit ngambilnya. Jadi kita harus sabar. Karena kalau enggak sabar ya enggak kena,” kata Ratno.
Dari delapan petugas yang mengemudikan alat berat pengeruk sampah di Waduk Pluit, Ratno adalah yang merasakan perubahan drastis waduk. Mulai dari dipadati tanaman eceng gondok hingga kini lapang dengan air, dia ingat benar dengan perubahan waduk dari tahun ke tahun.
Saat membersihkan hutan eceng gondok, misalnya. Ratno bercerita dia harus mengerahkan tenaga ekstra untuk menurunkan alat berat dan menebas tanaman eceng gondok setinggi lebih dari satu meter. Dia menarik kemudian mendorong tumpukan tanaman air itu ke tepian.
Setelah eceng gondok bersih dari permukaan air, barulah Ratno bersama teman-temannya mulai mengeruk sampah di bawah air. Sampah di dalam waduk pun ternyata bukan hanya sampah plastik yang menyebabkan waduk tak bisa menampung air, banyak limbah rumah tangga berukuran besar yang juga bersemayam di dalam air.
“Springbed, kasur busa, selimut, terpal, sofa, kaus, pakaian, sampai pakaian dalam sudah enggak kehitung. Banyak juga kutang yang sering berlibet di alat yang ada rodanya,” sebutnya.
Selain sampah rumah tangga, selama dua tahun membersihkan waduk, Ratno juga cukup sering menemukan tas berisi kartu ATM atau kartu kredit. “Jadi kayaknya orang ngejambret di mana, buangnya di sini. Jadi kami nemu banyak harta karun dari penjambret,” kata Ratno tertawa.
Tas-tas temuan itu, imbuh Ratno, biasanya kemudian dicuci oleh teman-temannya. Jika masih layak, maka tas tersebut akan mereka pakai. Sedangkan kalau sudah tidak bisa digunakan, tas pun akan berakhir ke dalam truk yang akan membawanya bersama sampah-sampah lain ke Tempat Pembuang Akhir di Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat.
Tidak hanya menemukan sampah-sampah ajaib, para petugas Dinas Kebersihan juga beberapa kali bertemu dengan hewan mengerikan. Salah satunya ular rawa sepanjang empat meter dengan diameter sebesar paha orang dewasa.
“Teman saya sampai tiga kali mundur gara-gara takut karena nemu ular. Setelah air diubek-ubek, ular itu biasanya lari ke bawah rumah orang-orang di pinggir waduh. Waktu awal-awal membersihkan, jumlahnya bisa sampai puluhan. Sekarang sih sudah jarang nemu. Tapi kalau air lagi besar dia pasti keluar,” tuturnya.
Waduk Pluit saat ini memang sudah jauh berbeda dengan kondisinya pada tiga tahun lalu. Tak lagi menyeramkan atau mengerikan, waduk sudah berubah menjadi taman. Yanto, 32, teman sejawat Ratno yang juga petugas Dinas Kebersihan, mengaku sangat merasakan perubahan wujud Waduk Pluit, meski ada sedikit hal yang disayangkannya.
“Kalau sudah bersih semua, tempat ini pasti enak banget. Waduk ini luas, tamannya juga. Tapi sayang, warga dari rumah-rumah di sisi sebelah waduk masih suka buang sampah ke sini. Sore sudah bersih, ketika besok pagi kami kerja lagi pasti sudah ada sampah-sampah plastik baru yang mengambang,” kata Yanto.
news_share_descriptionsubscription_contact
