10 Agustus 2017•Update: 10 Agustus 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Sebagai salah satu sistem pendidikan di Indonesia, pesantren merupakan contoh sukses penerapan pendidikan karakter terhadap para peserta didik.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siradj dalam acara grand opening Hari Santri 2017 di kantor PBNU, Jakarta. malam ini.
"Pendidikan karakter yang paling efektif dan nyata itu di pesantren dan sudah terbukti membangun karakter bangsa," ujarnya.
Para kiai di pesantren tidak pernah mengajarkan hal-hal negatif seperti berkhianat, berbohong, manipulasi, dan keburukan lainnya.
"Di pesantren justru mengajarkan toleransi, solidaritas, serta gotong royong," ucapnya.
Santri Indonesia tidak mengenal konsep anti Pancasila dan anti nasionalisme. Oleh karena itu, pada hari santri kali menegaskan bahwa radikalisme atas nama agama dan ideologi anti Pancasila bukan merupakan bagian dari santri Nusantara.
Di kesempatan yang sama, Ketua Panitia Hari Santri 2017 Ahmad Athoillah mengatakan apapun profesinya, santri selalu dekat dengan ulama.
"Mereka hidup mandiri tanpa mengeluh, menuntut, ataupun ngeyel menyebar kebencian kepada negara atas nama hak," ujarnya.
Oleh karena itu, santri selalu merasa wajib menjadi penjaga rumah besar Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa menimbulkan konflik dengan kelompok etnis, suku, ras, dan pemeluk agama lain.
Komponen utama pendidikan santri adalah keutamaan akhlak dan kiai menjadi panutan.
"Semangat belajar santri sangat dijaga betul agar ada ketergantungan walau mereka sudah menjadi alumni," tukasnya.