Dunia, Berita analisis

Mengurai kematian mantan Presiden Pakistan Ziaulhaq

Dalam sebuah wawancara eksklusif, Ijazulhaq mengungkap konspirasi, mengekspos orang-orang di balik kecelakaan pesawat 1988 yang menewaskan ayahnya

Rhany Chairunissa Rufinaldo   | 26.02.2020
Mengurai kematian mantan Presiden Pakistan Ziaulhaq Mantan menteri Pakistan dan putra Muhammad Ziaulhaq yang meninggal dalam kecelakaan pesawat, Muhammad Ijaz-ul-Haq (kiri) berbicara untuk wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency di Islamabad, Pakistan pada 29 Januari 2020 . (Muhammed Semih Uğurlu - Anadolu Agency)

İslamabad

Mehmet Ozturk

ISLAMABAD, Pakistan

Kecelakaan pesawat C-130 di dekat Kota Bahawalpur, Pakistan, 531 kilometer di selatan ibu kota Pakistan, Islamabad, pada 17 Agustus 1988, yang menewaskan Presiden dan Kepala Angkatan Darat negeri itu Jenderal Muhammad Ziaulhaq tetap diselimuti misteri.

Kecelakaan itu juga menewaskan Duta Besar Amerika Serikat Arnold Lewis Raphel dan beberapa pejabat militer Pakistan lainnya.

Selama tiga dekade terakhir, banyak orang berspekulasi tentang sabotase, percaya bahwa bahan peledak disembunyikan dalam peti mangga yang dimasukkan ke pesawat di Bahawalpur. Namun, pemerintah Pakistan dan AS telah berulang kali membantah dan menggambarkan kecelakaan itu sebagai kecelakaan.

Sekarang, 32 tahun kemudian Muhammad Ijazulhaq, mantan menteri federal Pakistan dan putra Ziaulhaq mengklaim bahwa dia telah mengumpulkan bukti yang menyimpulkan bahwa pesawat itu jatuh karena penyemprotan gas saraf di kokpit yang mempengaruhi pilot. Dia juga mengkonfirmasi keberadaan bahan peledak di peti mangga, selain mengklaim bahwa proyektil juga mengenai pesawat.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency di kantornya di Rawalpindi, Ijazulhaq, yang menulis buku tentang masalah ini mengatakan bahwa konspirator tidak ingin meninggalkan jejak sama sekali.

Dia mengklaim bahwa peran mantan Panglima Angkatan Darat Jenderal Mirza Aslam Beg, mantan Penasihat Keamanan Nasional Jenderal Mahmood Ali Durrani menimbulkan kecurigaan. Dia mengatakan bahwa berdasarkan bukti, dia telah mengumpulkan agen mata-mata India dan Israel juga terlibat dalam pembunuhan ayahnya.

Anadolu Agency (AA): Bagaimana Anda menggambarkan ayah Anda, mantan Presiden dan Kepala Angkatan Darat Pakistan Jenderal Muhammad Ziaulhaq, sebagai seorang pria yang mencintai keluarga?

Muhammad Ijazulhaq (MI): Ayah saya Jenderal Muhammad Ziaulhaq dikenal oleh orang-orang karena kerendahan hatinya, sifatnya yang terlalu baik dan sifatnya yang murah hati. Dia juga seorang ayah yang sangat ramah, lebih dari saudara daripada seorang ayah. Saya menyesal bahwa saya tidak dapat menghabiskan waktu sebanyak yang saya inginkan bersamanya. Saya tetap di luar negeri untuk belajar dan kemudian bekerja di London, Dublin, dan Bahrain. Kami biasa berbicara setiap hari atau setidaknya tiga hingga empat kali seminggu di telepon. Tetapi saya tidak dapat menghabiskan waktu seperti yang dihabiskan saudara dan saudari saya yang lain bersamanya.

AA: Kapan terakhir kali Anda bertemu dengannya?

MI: Terakhir saya bertemu dengannya pada 29 Mei 1988, yaitu tiga bulan sebelum kematiannya yang tragis. Saya berada di Kanada bersama keluarga ketika mendengar berita itu. Sangat mengejutkan.

AA: Anda pasti mengikuti case ini. Bagaimana pesawat itu jatuh? Apakah itu kecelakaan atau sesuatu yang lain?

MI: Ketika kecelakaan itu terjadi, kami berusaha keras mengejar kasus ini sebanyak yang kami bisa. Tapi penutupannya begitu kuat dan dibungkus baik dari dalam maupun luar negeri sehingga kami tidak bisa sampai ke seluk-beluk berselaput. Satu hal yang jelas, bahwa setelah investigasi bersama Angkatan Udara Pakistan-AS, sejak awal Amerika mencoba sekuat tenaga untuk membuktikan bahwa itu hanyalah kecelakaan.

Sekitar 34-35 halaman laporan itu dirilis. Presiden Pakistan Ghulam Ishaq Khan, yang menjabat setelah ayah saya, mengumumkan pada saat itu dan laporan itu menegaskan bahwa itu bukan kecelakaan tetapi sabotase. Jadi, kami mulai mencari tahu.

Seorang anggota tim angkatan udara Pakistan yang menyelidiki kasus ini adalah penyelidik yang sangat senior di angkatan udara - komodor pada waktu itu - yang setara dengan seorang brigadir di angkatan darat.

Dia memprakarsai beberapa pertanyaan. Dia sudah tiada sekarang. Namanya adalah Komodor Udara Zaheer Zaidi. Dia mengambil bagian dari pesawat tanpa memberitahu siapa pun ke laboratorium di Pakistan. Kerabatnya adalah ketua di sana pada waktu itu.

Jadi diam-diam, dia melakukan analisis kimia terhadap puing-puing dan isinya seperti kulit mangga dan bagian lain apa pun yang dia dapat. Laporannya menyatakan bahwa itu adalah tindakan kriminal. Banyak fosfor antimon dan sebagainya. Dan hal-hal lain yang ditemukan menunjukkan ada sesuatu yang salah dan beberapa sabotase dilakukan.

Kemudian kami juga mengetahui bahwa tidak ada ledakan. Menurut Zaidi, beberapa tindakan telah dilakukan untuk memastikan bahwa jika salah satu gagal, yang lain akan berhasil. Jadi, ada gas saraf yang disimpan di kokpit pesawat yang begitu kuat sehingga melumpuhkan para pilot. Salah satu teori yang sampai pada pengetahuan kita adalah bahwa itulah alasan mengapa pesawat naik dan turun sebelum mengenai tanah ketika pilot lumpuh.

Mereka tidak bisa mengendalikan. Mereka gemetaran. Ini seperti ketika Anda menyembelih seekor binatang, dan dia mencoba melakukan beberapa tindakan seperti itu. Dikatakan bahwa gas disimpan di salah satu trofi yang diberikan kepada ayah saya. Mereka mengambilnya dan menyimpannya di kokpit.

AA: Siapa yang telah memberikan trofi itu?

MI: Beberapa petugas di sana, yang ikut serta dalam tugas itu. Zaidi muncul dan mencatat pernyataan di depan salah satu komisi yudisial, yaitu Komisi Shafiqur Rehman. Namun laporan komisi itu belum pernah dirilis. Ada tiga komisi yang dibentuk oleh pemerintah Pakistan. Yang pertama adalah Komisi Bandial yang dibentuk oleh pemerintah Partai Rakyat ketika Benazir Bhutto menjadi perdana menteri. Mereka tidak pernah tertarik untuk mencari tahu kebenarannya.

AA: Mengapa mereka tidak tertarik untuk mencari kebenaran? Bagaimanapun, presiden negara itu telah meninggal. Apakah itu tindakan balas dendam politik?

MI: Saya kira itu sebagian karena balas dendam politik, sebagian karena ada tekanan pada mereka juga.

AA: Apakah maksud Anda ada semacam kolaborasi antara aktor domestik dan eksternal?

MI: Ada kolaborasi. Banyak aktor yang terlibat melakukan upaya mereka, tanpa mengetahui apa yang dilakukan orang lain, dan bahkan tanpa bekerja sama di antara mereka sendiri. Ayah saya tidak pernah ingin menghadiri fungsi ini karena sebagai panglima militer dan juga sebagai presiden negara, dia tidak seharusnya hadir. Setiap bawahan jenderal dari markas tentara atau kepala staf umum atau mungkin kepala pelatihan bisa saja ada di sana.

Kenapa harus presiden? Dia diyakinkan untuk pergi oleh salah satu perwira senior yang dulu dekat dengannya, memintanya lagi dan lagi. Dia menelepon rumah kami 16 kali sesuai dengan daftar yang kami miliki di Rumah Tentara. Dia meminta ayahku untuk datang dan menghadiri acara dan bermain golf bersama. Dia berulang kali memintanya untuk datang dan tinggal bersamanya di Multan sebagai tamunya.

AA: Siapa dia?

MI: Dia adalah Jenderal Mahmud Ali Durrani. Dia adalah atase militer dalam misi Pakistan di Washington ketika dia seorang brigadir. Dan kemudian dia menjadi sekretaris militer untuk ayah saya selama hampir dua hingga tiga tahun sebelum dia pergi untuk memimpin divisi lapis baja di Multan. Karena latihan ini semua di bawah divisi Multan, dia ada di sana bertanggung jawab. Ada banyak yang ditutup-tutupi. Salah satunya adalah postmortem mayat dihentikan oleh perintah dari atasan.

AA: Maksud Anda tidak ada otopsi?

MI: Ya, tidak ada postmortem. Bagian-bagian tubuh itu seharusnya dibawa ke laboratorium di Lahore, yang bisa melakukan analisis. Tetapi pada saat-saat terakhir, mereka diperintahkan untuk tidak melakukannya. Satu-satunya otopsi dilakukan pada tubuh Brigjen. Jenderal Robert Wossom yang merupakan atase militer di Misi AS dan meninggal di pesawat yang sama. Postmortemnya dilakukan karena tubuhnya seharusnya dikembalikan ke AS.

Sebuah rumah sakit militer di Multan telah bersiap untuk melakukan otopsi terhadap semua orang berjumlah 29 yang meninggal dalam kecelakaan itu. Tetapi mereka diperintahkan untuk tidak melanjutkan. Dan perintah datang langsung dari atas. Dan kemudian para petugas dan dokter yang bekerja di rumah sakit itu dipindahkan ke daerah-daerah yang jauh di Pakistan. Zaidi, yang menulis laporan 100 halaman dilecehkan. Dia kemudian meninggal dunia.

AA: Apakah itu kematian yang normal?

MI: Dia meninggal secara normal. Tapi dia seperti, dikejar dan diancam. Saya tidak akan mengatakan agen mana itu, tetapi dia biasa memberi tahu kami. Dia adalah seorang profesional dan penyelidik top di Pakistan. Dia diusir dari angkatan udara dan kemudian tidak diizinkan melakukan pekerjaan apa pun, sampai salah seorang koleganya menjadi kepala otoritas penerbangan sipil di Pakistan. Dia mempekerjakannya sebagai penyelidik untuk beberapa waktu. Selain itu, dia menjalani kehidupan yang sangat menyedihkan.

Dia memberi saya dokumen 100 halaman tulisan tangannya, yang saat ini ada di saya. Dia memberi saya beberapa hal lain juga yang ada di mejanya. Dia telah menyimpan beberapa laporan di luar Pakistan. Dia memberi tahu orang-orang dengan siapa dia menyimpan dokumen agar merilisnya jika sesuatu terjadi padanya. Dia tidak memberikan dokumen-dokumen itu kepada kami. Tetapi laporan setebal 100 halaman, yang telah dia siapkan ada bersama saya dan Insya Allah saya akan menerbitkannya dalam buku saya yang akan datang. Juga, aspek lain yang sangat penting adalah bahwa kami telah memutuskan untuk menuntut Lockheed, sebuah perusahaan yang memproduksi pesawat C 130 yang jatuh.

AA: Pesawat itu memiliki empat mesin, jika gagal tiga mesin, satu mesin masih bisa bekerja, kan?

MI: Sekalipun terjadi kegagalan pada keempat mesinnya, dia memiliki kemampuan meluncur. Itu tidak akan jatuh. Itu adalah pesawat yang sangat kuat. Saat Anda membuka bagian belakangnya, Anda bisa memuat tank di dalamnya. Jadi, kami memutuskan untuk menuntut perusahaan itu satu miliar dolar, karena klaim mereka bahwa itu adalah kesalahan teknis. Kami ingin membuktikan bahwa itu bukan kesalahan teknis. Jika itu adalah kesalahan teknis, maka mereka perlu membayar ganti rugi kepada kami. Kami ingin mereka mengatakan bahwa itu bukan kesalahan teknis, tetapi sabotase.

Jadi, kami menyewa pengacara terkemuka yang berbasis di New York, warga negara AS. Dia sangat bersemangat, awalnya. Dan dia berseru bahwa dia telah mendapatkan kasus terbesar abad ini. Dia bahkan sampai memungkinkan kita mengadakan konferensi pers dengan biaya sendiri. Dan beberapa hari setelah pengumuman dan kegembiraannya bahwa dia mendapatkan kasus abad ini, semangatnya berkurang.

Ketika saya bertemu dengannya, dia bilang kepala otoritas penerbangan sipil AS telah mengundangnya untuk makan siang. Dan segera setelah itu, dia tidak pernah menghubungi kami dan bahkan tidak mengangkat telepon kami.

Demikian pula ketika kami juga mengajak Robin Raphel, istri Duta Besar AS Arnold Lewis Raphel yang juga menjadi korban. Dia juga tidak menghubungi kami setelahnya. Dia tidak pernah membicarakan hal ini. AS ingin memberikan kompensasi kepadanya dengan menjadikannya duta besar.

Juga, satu hal lagi yang telah saya sebutkan dan tidak ada yang menyangkal sejauh ini adalah bahwa ada seorang perwira angkatan udara ditahan di Pakistan atas tuduhan spionase. Namanya adalah Akram Awan. Dia dipenjara untuk waktu yang lama dan kemudian dibebaskan. Tapi izinkan saya menceritakan kisah singkat tentang Awan. Dia ditangkap karena spionase pada Mei 1988. Kecelakaan itu terjadi pada Agustus, tiga bulan setelahnya.

Dia berhubungan dengan RAW (agen intelijen India) dan Mossad (agen intelijen nasional Israel).

Saya harap Anda pernah mendengar cerita bahwa orang Israel pada 1986, mencoba membom Kahuta (sebuah kota dekat Islamabad, di mana Laboratorium Riset Kahuta, sebuah laboratorium penelitian nuklir, berada).

Mereka tidak bisa menjalankan misi. Tapi sudah direncanakan. Perencanaan tersebut berada pada tahap yang sangat maju sehingga ketika Pakistan mengetahui, para pejuang kami berada di udara selama 24 jam CAP (patroli udara konstan). Awan adalah orang yang seharusnya terbang dengan orang Israel itu di pesawat dan akan mengarahkan mereka ke Kahuta.

AA: Apakah dia seharusnya terbang di pesawat yang sama?

MI: Tentu saja, dalam jet pembom dengan dua tempat duduk milik Israel, yang seharusnya mengisi bahan bakar di India, dan dari sana, pesawat akan jatuh dan menghantam Pakistan, seperti yang mereka lakukan pada USS Liberty pada 1967 di perairan internasional di utara Semenanjung Sinai, Mesir. Mereka juga menggunakan pesawat kamuflase.

Awan ditangkap dan ditahan di salah satu rumah pengamanan tanpa akses ke dunia luar. Tiga perwira tentara, seorang brigadir, seorang kolonel dan seorang mayor menginterogasinya. Dia tidak memiliki akses ke media atau dunia luar. Sekitar 10 hari setelah kecelakaan itu, mereka membawanya ke ruangan lain memutar video penguburan ayahku dan berita tentang kecelakaan itu.

Mayor Jenderal M.H. Awan juga meninggal dalam kecelakaan ini. Dia mulai menangis keras karena almarhum Jenderal Awan adalah ayah angkatnya, yang telah membiayai sekolahnya dan membesarkannya.

Dia menangis dan mengatakan dia tidak tahu bahwa mereka akan menggunakan ini untuk tujuan itu. Dan apa itu? Jadi, selama interogasi, dia mengungkapkan bahwa dia telah membawa gas saraf. Menurut pengakuannya, ada dua petugas lainnya, satu dari Mossad yang menggunakan paspor AS dan satu lagi dari badan intelijen India.

Dia memberikan pernyataan ini di bawah sumpah kepada Hakim di bawah bagian 164 KUHAP Pakistan. Ketiga perwira itu menginterogasinya jelas harus mengatakan kepada kepala departemen mereka, yang pada gilirannya disampaikan kepada kepala tentara. Salah satunya dipanggil oleh kepala tentara, yang saya ketahui kemudian.

AA: Apakah maksud Anda Panglima Angkatan Darat Jenderal Mirza Aslam Beg menutup-nutupi?

MI: Menurut cerita, yang kemudian saya dengar bahwa Panglima Tentara Beg mengatakan kepada perwira itu bahwa ini adalah masalah yang sangat sensitif dan ada banyak tekanan dan mereka ingin mengatasinya. Jadi, mereka tidak ingin hal-hal diumumkan tiba-tiba. Dia mengambil salinan asli dari laporan interogasi Awan dan pernyataannya pada sumpah dan menyimpannya di laci.

Dan para petugas ini kemudian dipindahkan dari dinas intelijen. Saya telah bertemu dua dari mereka. Saya juga bertanya kepada Beg bahwa saya ingin klarifikasi. Dia tidak pernah mengizinkan. Orang-orang ini masih hidup. Jadi, inilah konspirasi yang dikelola. Kemudian, kami menekan Nawaz Sharif. Dia membentuk Komisi Shujat. Kemudian komisi lain dibentuk di bawah almarhum Hakim Shafiqur Rehman.

Komisi ini ditugaskan untuk mewawancarai semua orang dan menyimpulkan penyelidikan. Laporan itu tidak pernah dipublikasikan. Salah satu dari tiga hakim komisi itu (sebelum dia meninggal), memberi saya salinan laporan yang saya simpan di suatu tempat. Dia mengatakan selama penyelidikan, mereka telah mengirim pesan kepada angkatan udara bahwa mereka akan memeriksa bagian-bagian pesawat yang diambil dari Bahawalpur, disimpan di hanggar di Multan.

Zaidi telah menunjukkan kepada mereka gambar bahwa selain ledakan dan gas saraf, beberapa benda padat juga mengenai pesawat dari luar. Angkatan udara meminta mereka [anggota komisi] untuk datang setelah 48 jam. Jadi, menurut hakim ketika mereka pergi ke Multan, tidak ada apa-apa. Tidak ada bagian dari reruntuhan pesawat di sana. Dan itu seperti seluruh gajah telah menghilang. Dan kemudian, kami mengetahui bahwa mereka mungkin telah menjualnya sebagai "memo" atau apa pun itu.

AA: Pertanyaannya masih sama, siapa yang berada dibalik ini dan mengapa Jenderal Ziaulhaq dibunuh?

MI: Ketika kami mengikuti teori gas saraf, beberapa orang memberitahu kami bahwa gas itu dibawa dari suatu tempat di Spanyol. Jadi, kami mengirim seseorang ke sana. Dan setiap kali, kami pergi ke perwira senior ini karena dia bekerja sangat dekat dengan Jenderal Akhtar Abdur Rehman Khan.

Dia mengepalai biro ISI Asia Tenggara dan khususnya pada satu waktu, adalah kepala dari seluruh area. Dia mengundang saudara lelaki saya serta putra Jenderal Khan. Keduanya mengatakan kepada petugas untuk mengejar aspek gas saraf. Kata terakhir dari peringatannya adalah bahwa "jangan mengejar kasus ini jika Anda ingin tetap berkecimpung dalam politik".

AA: Siapa yang mengatakan ini?

MI: Kepala stasiun intelijen di kedutaan AS di Islamabad. Dia mengatakan kepada saudara saya untuk menyampaikan kepada saya jika saya ingin mengejar karir politik, maka kita tidak harus mengikuti kasus ini. Lebih penting lagi, menurut buku biru FBI, mereka harus menangani kasus kematian setiap warga negara AS di mana pun di dunia dalam waktu 48 jam.

FBI harus pergi dan menyelidiki dalam 72 jam. Ini sebuah aturan. Di sini utusan mereka telah meninggal dan mereka tidak diizinkan untuk berkunjung selama 10 bulan. Dan ketika mereka datang, mereka hampir tidak tertarik dengan investigasi. Mereka lebih menikmati jalan-jalan.

Mereka pergi ke Taxila, Murree, ke mana-mana. Ketika mereka bertemu kami, kami memberi mereka 25 nama dan menyuruh mereka untuk mengajukan pertanyaan kepada nama-nama itu. Kami saling melontarkan kata-kata kasar karena mereka mengatakan bahwa kami tidak mempercayai mereka. Saya berkata, ya, saya tidak mempercayai Anda. Pertama-tama, Anda seharusnya berada di sini dalam 72 jam. Sekarang setelah 10 bulan Anda baru datang.

AA: Menurut penilaian Anda, mengapa hal seperti itu terjadi?

MI: Sangat sederhana. Perang Afghanistan telah berakhir. Uni Soviet terpecah belah. Negara-negara Asia Tengah muncul menjadi blok yang sangat besar. Jenderal Zia sangat dekat dengan Jenderal Hussain Muhammad Irsyad dari Bangladesh. Dan tidak ada yang mentolerir itu, baik India maupun AS.

Bahkan banyak negara tidak mentolerir hubungan kami dengan Turki. Saya ingat ketika saya akan berpidato pada konferensi pers pertama saya, karena kami ingin berterima kasih kepada orang-orang Pakistan karena menghadiri pemakaman dan karena telah memberikan begitu banyak cinta dan kasih sayang. Sepanjang hari, agen intelijen menghabiskan waktu menyuruh ibu saya untuk menyampaikan kepada kami agar tidak mengumumkan apa pun. Mereka ingin kami tetap berada di belakang.

AA: Apakah Anda menemukan hubungan antara pembunuhan Jenderal Ziaulhaq dan program nuklir Pakistan?

MI: Sebagian ya. Jika Anda pernah mendengar wawancara ayah saya dengan seorang jurnalis Amerika yang menawarkan kepadanya bahwa "jika Anda menandatangani NPT, mereka akan memberikan semua energi yang diinginkan Pakistan." Ayah saya mengatakan kepadanya, John, tidak ada yang bisa mengimbangi harga kebebasan.

Dia melayangkan pukulan yang jitu di Afghanistan, bermain sangat baik dengan AS, mendapat keringanan dari mereka dan melanjutkan program nuklir yang sebelumnya merupakan laboratorium yang lebih kecil di Pangkalan Udara Chaklala. Pada 1983 Abdul Qadeer Khan memberi tahu ayah saya bahwa program nuklir Pakistan siap untuk uji dingin.

Pada 1986, ayah saya pergi ke India dan menyampaikannya kepada Perdana Menteri India Rajiv Gandhi yang telah memindahkan pasukannya ke perbatasan kami.

AA: Apa sebenarnya yang dikatakan Jenderal Zia kepada Rajiv Gandhi, kita telah mendengar bahwa dia mengancamnya dengan serangan nuklir?

MI: Penasihat Rajiv Gandhi telah menulis semua ini secara terperinci dalam bukunya dan itu adalah bagian dari sejarah. Raja Zafrul Haq, seorang menteri informasi yang menemani ayah saya ke India, juga menceritakan kisah yang sama.

Ayah saya diberitahu oleh badan intelijen bahwa seperempat juta tentara India telah pindah ke perbatasan dan mereka bersiap untuk menyerang Pakistan kapan saja. Itu bisa terjadi dalam waktu 48 jam atau dalam 72 jam. Jadi, dia mendorong Rajiv Gandhi untuk memberinya kesempatan menyaksikan pertandingan kriket Pakistan-India di kota Jaipur, India.

Perdana Menteri India itu pada awalnya tidak siap menerima Presiden Pakistan di bandara tetapi harus diyakinkan dulu oleh rekan-rekannya untuk melakukannya.

Sebelum berangkat, ayah saya, sambil mengucapkan selamat tinggal pada Gandhi berkata: "Tuan Rajiv, jika Anda ingin menyerang Pakistan, lakukanlah. Tetapi perlu diingat bahwa dunia ini akan melupakan Halaku Khan dan Changez Khan dan hanya akan mengingat Ziaulhaq dan Rajiv Gandhi karena ini bukan perang konvensional melainkan perang nuklir. Dalam situasi ini, Pakistan mungkin dihancurkan, tetapi umat Islam akan tetap ada di dunia; tetapi dengan kehancuran India, Hindu akan lenyap dari muka bumi ini."

Raja Zafrul Haq mengatakan bahwa kami semua takut. Bahwa ada orang gila, pergi ke India dalam situasi yang tegang ketika mereka sedang mempersiapkan serangan dan dia menonton pertandingan kriket dan kemudian secara bersamaan memberikan ancaman. Tapi ketika ayahku naik ke pesawat, dia santai dan tertawa seperti biasa. Dia bilang pada Raja, jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja.

AA: Abdul Rab Rasul Sayyaf [pemimpin Afghanistan] pernah mengatakan kepada saya bahwa Zia telah menceritakan kepadanya bahwa AS ingin membunuhnya dan itulah alasannya dia membawa duta besar AS ke mana-mana. Seberapa jauh pernyataan ini benar? Apakah Anda mendengar sesuatu seperti ini dari dia?

MI: Tidak juga. Maksudku, dia tidak membawanya ke mana-mana. Tetapi dia diberitahu untuk tidak bepergian pada masa itu. Pada 12 Agustus, dia pergi ke Lahore untuk meresmikan jembatan. Tapi perjalanan yang satu ini ke Bahawalpur, dia tidak pernah mau. Tapi dia terpaksa pergi ke sana. Menteri Dalam Negeri saat itu Aslam Khattak mengatakan bahwa mereka memperingatkannya bahwa ada ancaman terhadap nyawanya dan dia seharusnya tidak bepergian.

AA: Apakah benar bahwa Jenderal Mirza Aslam Beg juga ada dalam daftar orang yang akan menemani ayah Anda?

MI: Wajar bila ada begitu banyak perwira senior yang naik pesawat yang sama, satu-satunya wakil kepala pasukan mengatakan dia tidak datang dengan pesawat ini. Jadi, ayah saya bertanya kepadanya, ketika dia berdiri di sana untuk melihatnya. Dia bilang dia akan pergi ke Multan atau apalah, katanya dia punya pesawatnya. Ayah saya berkata, baiklah, silakan saja.

AA: Kecelakaan udara ini dikaitkan dengan mangga. Banyak orang bahkan membuat fiksi peristiwa itu. Apa kebenaran dibalik mangga?

MI: Teori mangga itu benar. Ada ledakan di peti mangga. Para konspirator telah menggunakan gas untuk melukai pilot, bahan peledak di krat mangga dan proyektil yang menabrak pesawat dari luar.

AA: Tekanan apa saja yang Anda hadapi?

MI: Seperti yang saya katakan, saya menghadapi tekanan untuk tidak mengejar kasus ini. Saya diberitahu, jika Anda ingin mengejar karir di bidang politik, menjauhlah dari kasus ini.

AA: Apakah ada ancaman dari AS?

MI: Ya, ada ancaman tidak langsung dari AS.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.