Dunia, Berita analisis

EKSKLUSIF - Presiden Pakistan: Kami hanya inginkan perdamaian soal masalah Kashmir

Presiden Pakistan Arif Alvi juga membahas persahabatan Turki-Pakistan dan beberapa isu lainnya

Muhammad Abdullah Azzam   | 18.09.2019
EKSKLUSIF - Presiden Pakistan: Kami hanya inginkan perdamaian soal masalah Kashmir Presiden Pakistan Arif Alvi. (Serhat Çağdaş - Anadolu Agency)

İslamabad

Behlül Çetinkaya, Mehmet Öztürk

ISLAMABAD 

Dalam wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, Presiden Pakistan Arif Alvi menjelaskan berbagai isu seperti masalah Kashmir, hubungan bilateral Turki-Pakistan, serta usulan oleh Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad terkait pembentukan aliansi “Turki-Malaysia-Pakistan”.

Anadolu Agency (AA): Apa tujuan India menghapus status khusus Jammu Kashmir dan membaginya menjadi dua wilayah? Jika India tidak siap untuk mengimplementasikan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk solusi masalah lama ini, metode apa yang dapat digunakan untuk menemukan solusinya?

Presiden Pakistan (PP): Pertama-tama saya berterima kasih kepada pemerintah Republik Turki dan rakyatnya, karena selalu berada di samping Pakistan di saat kami butuhkan dan sikap berani Turki menegaskan tentang masalah Kashmir ini harus diselesaikan sesuai dengan resolusi DK PBB.

Dulu mantan Perdana Menteri India (Jawahirlal Nehru) pergi ke PBB untuk menyelesaikan masalah Kashmir dan berjanji untuk menggelar plebisit yang akan memungkinkan rakyat Kashmir menentukan nasib mereka sendiri hingga tahun 1960-an. Namun kemudian dia mundur dari janjinya dan menolak diskusi ini di semua forum internasional.

India sekarang menyebut gerakan kebebasan Kashmir sebagai kelompok teroris. Negara ini berusaha menyudutkan perjuangan menuntut gerakan kebebasan yang diakui oleh PBB itu sebagai gerakan teroris di India. Namun sejak Perjanjian Simla pada tahun 1972, India belum pernah mengadakan pertemuan lagi tentang Kashmir, dan hari ini mereka mengatakan bahwa Kashmir adalah bagian tak terlepaskan dari India.

Hal lain yang membuat saya khawatir adalah kedekatan filosofi pemerintah (Perdana Menteri India, Narendra) modi di bawah Organisasi Sukarelawan Paramiliter Sayap Kanan India (RSS) dengan filosofi Hitler yang memiliki gagasan pembersihan etnis, mengendalikan dan menekan minoritas. India berusaha membuat empat juta Muslim di Jammu Kashmir dan Assam kehilangan kewarganegaraan. Meski PBB mengatakan tak akan ada yang dibiarkan tanpa kewarganegaraan, Modi berjalan di jalur berbahaya karena terus menargetkan kaum minoritas.

Saya ingin mengatakan sekali lagi bahwa saya berterima kasih kepada pemerintah Turki dan juga Presiden Recep Tayyip Erdogan. Saya berterima kasih kepada Erdogan karena beliau mengatakan serangan Pulvama akan menciptakan krisis dan pada hari-hari India melancarkan serangan, beliau menelepon saya dan mengatakan dirinya memahami posisi Pakistan.

AA: Mengapa PBB dan negara-negara besar tidak tertarik untuk menyelesaikan masalah Kashmir, meski sudah 71 tahun berlalu? Apakah Anda berpikir Pakistan dan India akan berperang jika India tidak mundur dari keputusan yang terakhirnya?

PP: Masalah Kashmir terakhir kali dibahas di PBB pada tahun 1965. Menurut saya Modi telah membawa masalah ini ke tingkat di mana semua negara di dunia akan memberikan reaksi. Hari ini (16 September) adalah hari ke-45 di mana suara Kashmir tak lagi terdengar, tidak ada yang tahu apa yang terjadi di sana dan isolasi di seluruh wilayah tersebut.

Bisakah Anda bayangkan bagaimana orang bisa hidup di tempat seperti itu? 8 juta orang tinggal di penjara pada jam malam, dan India memiliki pemikiran yang salah bahwa hal itu dapat menekan Kashmir. Tidak ada yang bisa menekan Kashmir. Ketika kita melihat Palestina, kita melihat bahwa tidak ada yang bisa menekan mereka. Cepat atau lambat saya percaya plebisit akan digelar di Kashmir.

Pakistan menginginkan perdamaian. Seperti yang Anda tahu (Perdana Menteri) Imran Khan menawarkan untuk bertemu dengan India beberapa kali ketika dia baru memulai jabatannya. Dia mengatakan jika India melakukan satu langkah maka kami akan melangkah dua langkah. Setiap kali India menolak tawaran ini yang mengarah pada pandangan India menganggap Pakistan sebagai lemah. Kami menginginkan perdamaian, bukan karena kami lemah, tetapi karena perdamaian antara India dan Pakistan akan membawa kemakmuran. India menghadapi kemiskinan besar. Jika ada perdamaian maka uang-uang itu akan dihabiskan untuk rakyat, tetapi India memusuhi tetangga-tetangganya, termasuk Pakistan. Ini adalah situasi yang menyedihkan kami.

AA: Dalam sebuah pernyataan, Anda berkata, "Orang Islam tidak menginginkan perang, tetapi kami tidak mundur jika terpaksa harus berperang." Apakah maksud Anda Pakistan tidak akan memulai peperangan duluan dengan India?

PP: Seperti yang dikatakan Nabi kita, umat Islam tidak menginginkan peperangan, tetapi jika terpaksa maka mereka harus berperang sesuai dengan perintah Allah dan ini adalah jihad. Pertama-tama, kami tidak menginginkan perang. Kedua, kami adalah negara-negara yang memiliki tenaga nuklir. Jari rezim fasis Modi berada di atas tombol bom nuklir dan kini mereka sangat tegang. Pada bulan Februari Pakistan menembak jatuh pesawat mereka, sementara itu mereka juga menembak helikopter mereka sendiri secara tidak sengaja.

Ini menunjukkan bahwa India adalah negara yang tidak bertanggung jawab karena jari mereka yang berdiri di atas tombol itu sangat berbahaya. Tapi di sisi lain, Pakistan adalah negara yang memiliki kekuatan nuklir. Oleh karena itu perdamaian di kawasan ini sangat penting. Pakistan merupakan negara yang bertanggung jawab. Setelah menangkap pilot pesawat mereka yang jatuh, kami mengirimnya kembali ke negaranya.

Kami menginginkan perdamaian, tapi jika India menyerang kami, kami akan membalasnya. Saya tidak berpikir India dapat membayangkan bagaimana orang-orang beriman dapat bertahan bila tanah mereka diserang.

AA: Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad pada kunjungannya ke Turki bulan lalu mengusulkan aliansi Turki, Malaysia dan Pakistan untuk menyatukan dunia Islam. Sebagai presiden Pakistan peran apa yang dapat Anda mainkan untuk membuat usulan aliansi ini menjadi kenyataan?

PP: Ini sangat penting. Sebelum pertemuan terakhir kami, saya dan (Imran) Khan bertemu dengan Presiden Erdogan pada tahun 2011 dan 2012. Menurut saya Erdogan adalah pemimpin visioner. Perdana Menteri Mahathir dan Perdana Menteri Imran Khan juga merupakan pemimpin visioner. Ketiga negara ini adalah negara demokrasi besar yang memiliki populasi besar.

Saya pikir penting bahwa ketiga negara ini bersatu dalam bidang ekonomi. Turki memainkan peran penting dalam menghadapi masalah Timur Tengah.

Turki berusaha menciptakan perdamaian di perbatasan Suriah. Ketika ada perdamaian di sana maka akan ada restrukturisasi besar-besaran di Timur Tengah dan Afghanistan. Oleh karena itu Turki, Pakistan dan Malaysia bukan hanya membangun perdamaian, tetapi juga bisa memainkan peran utama dalam meningkatkan pembangunan di dunia Muslim. Mereka ini orang-orang berprinsip dan kerja sama tiga negara ini sangat penting bagi dunia Islam.

AA: Bagaimana Anda melihat masa depan hubungan Turki dan Pakistan? Menurut Anda di bidang mana saja hubungan bilateral kedua negara harus diperkuat?

PP: Saya berpikir hubungan bilateral antara Pakistan dan Turki yang sangat bersahabat bisa menjadi bisa menjadi sebuah teladanan. Persahabatan dan hubungan dekat kita sudah ada tak hanya sejak Pakistan berdiri, namun sejak Gerakan Kekhalifahan. Saya ingat ayah saya, yang meninggal pada 1980-an, berbicara dengan penuh semangat tentang Gerakan Khilafah. Dia memainkan peran dalam gerakan ini. Saya pikir ikatan nyata persahabatan kita tak ada duanya di dunia.

Ini adalah persahabatan antara dua rakyat. Menurut pendapat saya sejarah hubungan kita yang berkembang ini harus disampaikan kepada generasi muda.

Di masa depan Turki dan Pakistan akan berusaha membangun ekonomi yang baik, mungkin dengan pertukaran budaya antar masyarakat kedua negara. Hal ini dapat menjadi kerjasama pertahanan yang baik antara Pakistan dan Turki. Kami dapat bekerja sama dalam pembangunan dan infrastruktur pesawat. Saya beberapa bulan lalu meresmikan pembuatan sebuah kapal tanker atas bantuan Turki.

Saya pikir ini adalah kerja sama yang luar biasa antara kedua negara yang bersaudara. Kita harus hidup bersama, berpikir bersama, dan bekerja bersama.

AA: Rakyat Turki senang dengan dukungan Pakistan dalam memerangi Organisasi Teroris Fetullah Gulen (FETO). Dalam hal ini apakah Anda berpikir bahwa bahaya FETO telah dipahami dengan benar di komunitas internasional?

PP: Saya pikir masalah ini sudah diterima dengan baik oleh internasional. Saya pikir kita berdiri di sisi Turki. Setelah kami melihat apa yang terjadi (di Turki) Pakistan segera mengambil tindakan. Ketika saya mengunjungi Turki untuk pembukaan Istanbul Airport, Erdogan secara khusus meminta agar semua kasus terkait kelompok teroris ini di Pakistan diselesaikan secara cepat. Kami memenuhi permohonan itu dan mempercepat proses kasus serta menyerahkan sekolah FETO ke Yayasan Maarif Turki.

Saya berpikir masalah ini tengah ditangani oleh Turki dengan baik dan bijak. Kami senang rakyat Turki berdiri di belakang pemerintah mereka. Ini adalah contoh yang baik bagi dunia bahwa tidak ada yang dapat menyentuh Anda jika Anda mengambil dukungan rakyat Anda.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın