Ahmet Gençtürk
14 April 2021•Update: 15 April 2021
ANKARA
Turki pada Selasa mengumumkan aturan lockdown parsial selama dua minggu untuk mengekang peningkatan kasus harian Covid-19 baru-baru ini di negara itu.
Berbicara kepada wartawan setelah pertemuan kabinet yang berlangsung selama tiga jam, Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan langkah-langkah antisipasi baru terhadap pandemi akan berlaku pada Rabu malam dan berlanjut selama dua minggu pertama bulan suci Ramadan.
Di antara pembatasan baru adalah aturan jam malam pada hari kerja diperluas mulai pukul 19.00 - sebelumnya jam 21.00 - hingga jam 5 pagi, serta pelarangan perjalanan antar kota, namun larangan itu tidak termasuk jika ada situasi yang mendesak.
Kafe dan restoran juga hanya diperbolehkan menyediakan layanan pengiriman ke rumah dan take away, sementara gedung pernikahan, pusat olahraga, dan aula permainan akan ditutup hingga akhir liburan Idul Fitri yang menandai akhir Ramadan.
Pada 14 Januari, Turki memulai kampanye vaksinasi massal melawan Covid-19, dimulai dengan petugas kesehatan dan pejabat tinggi untuk mendorong kepercayaan publik terhadap vaksin tersebut.
Menurut angka resmi Kementerian Kesehatan Turki, negara itu sejauh ini telah memberikan hampir 19,18 juta dosis vaksin virus korona di seluruh negeri.
Lebih dari 11,48 juta orang hingga saat ini telah menerima dosis pertama vaksin, sementara dosis vaksin kedua telah diberikan kepada hampir 7,69 juta.
Sejak Desember 2019, pandemi telah merenggut lebih dari 2,95 juta jiwa di 192 negara dan wilayah.
Hubungan Uni Eropa dan aksesi keanggotaan
Erdogan mengatakan selama kunjungan resmi para pejabat tinggi Eropa ke Turki pekan lalu, dia telah membahas berbagai isu dengan kepala Dewan Uni Eropa Charles Michel dan ketua Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen.
Di antara agenda pertemuan, mereka membahas pembebasan visa Uni Eropa untuk warga Turki, Serikat Bea Cukai Turki dengan blok tersebut, masalah Mediterania Timur dan perjanjian migrasi 2016, menurut presiden Turki.
Erdogan mengatakan dia berharap kunjungan tersebut akan menjadi titik balik bagi hubungan bilateral.
"Seperti yang selalu kami katakan, Turki selalu transparan dan tulus dalam hubungannya dengan Uni Eropa," kata Erdogan, seraya menambahkan bahwa negaranya telah mengambil langkah-langkah untuk memenuhi persyaratan untuk keanggotaan penuh UE, satu per satu.
Dia berargumen bahwa beberapa negara telah diberikan keanggotaan di blok tersebut meskipun mendaftarkan diri setelah Turki, yang menurut Erdogan negaranya lebih baik dari negara-negara tersebut dalam hal kriteria demokrasi dan ekonomi.
Menyinggung kesepakatan migrasi 2016 antara Ankara dan Brussel, Erdogan menekankan bahwa Turki telah memenuhi komitmennya berdasarkan perjanjian, mencegah masuknya migrasi ilegal yang akan membuka jalan bagi "krisis politik dan ekonomi yang serius" di Eropa.
Dia juga menegaskan bahwa negara-negara Eropa telah menunjukkan standar ganda mereka terhadap Turki dengan memberikan reaksi terhadap keresahan sosial selama pandemi dengan cara yang "melanggar prinsip demokrasi dan supremasi hukum."
Presiden Turki menggarisbawahi bahwa negaranya tetap berkomitmen penuh untuk menjadi anggota Uni Eropa.