Muhammad Abdullah Azzam
11 September 2020•Update: 11 September 2020
Dilara Hamit
ANKARA
Turki pada Kamis menandatangani perjanjian kerja sama pendidikan dengan Guinea-Bissau, negara di Afrika Barat, termasuk perjanjian untuk menutup sekolah terkait dengan kelompok teroris FETO.
"Saya ingin berterima kasih kepada Guinea-Bissau atas dukungannya dalam perang melawan Organisasi Teroris Fetullah [FETO], dan kami menyambut baik penutupan sekolah yang berafiliasi dengan FETO di sini," ujar Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu konferensi pers.
Menlu Turki Cavusoglu memuji penandatanganan kesepakatan antara Yayasan Maarif Turki dan Guinea-Bissau.
Cavusoglu mengungkapkan kelompok itu akan membuka sekolah baru di negara itu, seperti 333 sekolah yang telah mereka buka di 43 negara berbeda, termasuk 23 di Afrika.
FETO, kelompok teror di balik kudeta yang dikalahkan pada 2016 di Turki, memiliki jaringan sekolah di luar negeri yang digunakannya sebagai untuk sumber dana kegiatan mereka.
Sejak kudeta yang dikalahkan, Turki mendirikan Yayasan Maarif untuk mengalihkan bekas sekolah FETO ke otoritas yang bertanggung jawab serta membuka sekolah baru.
Beralih ke wabah virus korona, Cavusoglu mengatakan pihaknya menunjukkan solidaritas dengan Guinea-Bissau selama pandemi dan Turki juga membawa bantuan seperti ventilator dan masker N95.
Cavusoglu juga mengatakan mereka akan mendukung pendirian akademi diplomasi di Guinea-Bissau dan Akademi Kementerian Luar Negeri Turki akan menawarkan program pelatihan online kepada para diplomat lokal.
Mengenai perjanjian lain yang ditandatangani pada hari yang sama, dia menyebut perjanjian tersebut tidak hanya akan memperkuat dasar hukum kerja sama bilateral, tetapi juga membantu keduanya untuk lebih meningkatkan kerja sama bilateral di banyak bidang yang berbeda.
"Kami akan terus mendorong pengusaha kami untuk berinvestasi di sini di Guinea Bissau," imbuh dia.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Gulen mengatur kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016, yang menyebabkan 251 orang tewas dan hampir 2.200 lainnya terluka.
Ankara juga menuduh FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi lembaga-lembaga Turki, terutama militer, polisi, dan pengadilan.