Muhammad Abdullah Azzam
20 Desember 2019•Update: 20 Desember 2019
Merve Yildizalp, Baris Gundogan, Enes Kaplan
KUALA LUMPUR/ANKARA
Selain telah menampung empat juta pengungsi, Turki juga tengah berhadapan dengan gelombang pengungsi baru dari Suriah dengan jumlah sekitar 50.000 orang, ungkap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, pada Kamis.
Pernyataan presiden Turki tersebut disampaikan pada pertemuan tentang prioritas pembangunan dan tantangan dengan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan Presiden Iran Hassan Rouhani dalam Kuala Lumpur Summit.
"Turki telah menampung 4 juta [pengungsi], sekarang 50.000 lainnya menuju ke tanah kami dari Idlib [Suriah]," kata Recep Tayyip Erdogan di Kuala Lumpur.
“Kami menghabiskan lebih dari USD40 miliar. Turki tak mendapat dukungan serius dari Komisi PBB untuk Pengungsi dan Uni Eropa juga tak menepati janjinya,” ujar Erdogan, menyinggung kesepakatan pengungsi antara Turki dan Uni Eropa.
Di bawah kesepakatan 2016, Uni Eropa telah menjanjikan EUR6 miliar bantuan untuk meningkatkan kondisi kehidupan para pengungsi Suriah di Turki. Tetapi hanya EUR2,22 miliar yang dicairkan pada Juni 2019.
Turki saat ini menampung sekitar 3,6 juta pengungsi Suriah, lebih banyak dari negara mana pun di dunia.
Ratusan orang yang terdiri dari pejabat pemerintah, pengusaha, perwakilan masyarakat sipil, dan pakar dari berbagai sektor di dunia Muslim mengikuti pertemuan di Malaysia dan mengajukan pertanyaan kepada para pemimpin.
Menjawab pertanyaan tentang terorisme, Erdogan mengatakan: "Mereka berkata 'kita perlu memerangi terorisme.' Bagaimana cara kita memerangi teroris? Kita tidak bisa melawan terorisme hanya dengan melontarkan kata-kata, kita perlu mengambil tindakan."
Erdogan menambahkan bahwa ketika Turki mengatakan 'kita perlu membangun zona aman,' namun tidak ada yang memberikan dukungan, tetapi ketika menyangkut masalah senjata mereka langsung datang dengan menodong senjata.