Muhammad Abdullah Azzam
06 Oktober 2020•Update: 07 Oktober 2020
Emre Gurkan Abay
BAKU, Azerbaijan
Presiden Azerbaijan pada Senin mengatakan bahwa Turki harus berpartisipasi dalam proses penyelesaian konflik Karabakh dengan Armenia.
“Turki, dengan posisinya yang kuat di komunitas internasional, harus berpartisipasi dalam proses perdamaian terkait Karabakh,” ungkap Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dalam sebuah wawancara dengan TRT Haber, saluran berita milik pemerintah Turki.
Menggarisbawahi bahwa kendaraan udara tanpa awak bersenjata canggih (UAV) Turki menunjukkan potensi yang tinggi Turki, Aliyev mengatakan UAV telah membantu menurunkan jumlah korban di zona konflik.
Dia juga menekankan bahwa Armenia berusaha menarik Rusia ke dalam perang dengan menyerang wilayah Azerbaijan.
"Rusia bertindak seperti negara yang bertanggung jawab atas Karabakh. Ada pesan positif dari Rusia dan tidak diragukan lagi bahwa Rusia akan memihak satu pihak," kata dia.
Serangan Armenia terhadap pemukiman sipil di wilayah Ganja tidak dapat diterima, tegas Aliyev, sambil menambahkan bahwa kota Ganja bukanlah daerah pertempuran.
“Orang Armenia tinggal di Azerbaijan. Kami tidak punya masalah dengan orang-orang Armenia. Orang-orang Armenia adalah sandera dari kekuatan mereka sendiri,” sebut dia.
Presiden Azerbaijan menambahkan bahwa mereka akan hidup bersama di Karabakh ketika pendudukan Armenia diakhiri.
Menekankan banyak permukiman yang telah dibebaskan dari pendudukan Armenia, Aliyev mengatakan pasukannya akan menjamin integritas teritorial Azerbaijan dengan melanjutkan tugasnya.
"Nagorno-Karabakh dan wilayah pendudukan lainnya adalah tanah bersejarah Azerbaijan. Tanah ini milik Azerbaijan berdasarkan hukum internasional," tambah dia.
Mengenai seruan negosiasi dari beberapa negara, Aliyev mengatakan Armenia mengharapkan tidak hanya gencatan senjata, tetapi juga jaminan di luar itu.
Azerbaijan mendukung penyelesaian damai atas sengketa tersebut, dan negara itu juga menuntut waktu pasti penarikan pasukan Armenia dari wilayah pendudukan.
-Konflik Karabakh
Hubungan antara dua negara bekas republik Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
Sejumlah resolusi PBB serta banyak organisasi internasional menuntut penarikan pasukan Armenia dari wilayah tersebut.
OSCE Minsk Group - diketuai bersama oleh Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat - dibentuk pada 1992 untuk menemukan solusi damai bagi konflik itu, tetapi upayanya tak kunjung berhasil. Gencatan senjata disepakati pada 1994.
Banyak kekuatan dunia telah menyerukan gencatan senjata segera. Turki, sementara itu, mendukung hak Baku untuk membela diri.