Ahmet Salih Alacaci
02 Juli 2026•Update: 02 Juli 2026
CEO Palantir Alex Karp menyatakan dirinya merupakan "CEO yang paling terbuka mendukung Israel", seraya mengklaim tetap menyampaikan kritik secara tertutup kepada para pejabat Israel terhadap kebijakan yang tidak didukungnya.
Dalam wawancara dengan CNBC pada Rabu, Karp mengatakan Israel tetap menjadi mitra penting Amerika Serikat meski Washington dan Tel Aviv tidak selalu memiliki pandangan yang sepenuhnya sejalan.
"Saya pikir Israel berada di pihak yang benar," kata Karp. "Namun secara pribadi, karena saya dikenal bersikap adil di sana, saya mungkin juga menjadi pengkritik yang paling efektif."
Menanggapi pertanyaan mengenai perbedaan sikap antara Amerika Serikat dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah gencatan senjata dengan Iran bulan lalu, Karp mengatakan merupakan hal yang wajar apabila kedua negara tidak selalu memiliki posisi yang sama.
"Pandangan saya, mereka adalah mitra yang sangat penting dan kami bangga mendukung mereka," ujarnya.
Karp menolak menyampaikan kritik terhadap Israel secara terbuka karena khawatir pernyataannya akan dipelintir.
"Ada banyak kritik yang sah terhadap Israel maupun negara lain," katanya, sembari mengklaim banyak pihak yang mengkritik Israel sebenarnya tidak menginginkan negara itu tetap berdiri.
Saat ditanya mengenai Nota Kesepahaman dengan Iran yang ditandatangani secara elektronik pada 14 Juni, Karp menolak mengomentari dampaknya terhadap Israel.
"Amerika harus mengutamakan kepentingannya sendiri," katanya. Ia menambahkan masih ada sejumlah rincian kesepakatan yang belum dipublikasikan dan menurutnya akan memberikan ketenangan apabila nantinya diungkap ke publik.
Palantir, perusahaan perangkat lunak asal Amerika Serikat yang didirikan bersama miliarder Peter Thiel, selama ini mendapat kritik atas kerja samanya dengan militer Israel serta kebijakan penegakan imigrasi pemerintahan Donald Trump.
Perusahaan yang berbasis di Miami itu memperluas kerja sama di bidang pertahanan dan intelijen militer melalui platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digunakan militer Israel. Sejumlah laporan dan penilaian pakar mengaitkan teknologi Palantir dengan operasi militer di Gaza, Lebanon, dan terhadap Iran.
Palantir membantah tuduhan bahwa teknologinya digunakan secara langsung dalam serangan Israel ke Gaza. Pada Januari 2024, perusahaan itu menandatangani perjanjian kerja sama strategis dengan pejabat pertahanan Israel dan kemudian menyatakan akan memberikan dukungan berbasis AI untuk "misi yang berkaitan dengan perang."
Alternatif judul: